Kaum Muslimin sepakat bahwa Allah Ta’ala mempunyai sifat sangat sempurna. Dan Dia terlepas dari semua kekurangan sedikitpun juga. Hal ini dijelaskan dalam al-Qur’an: “Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepadaNya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Hasr: 24).
Menurut Ibnu Atsir, asal kata tasbih adalah membersihkan, mensucikan, lepas dari kekurangan. Kemudian digunakan di beberapa tempat yang mendekatkan (makna) lebih luas lagi.” (An-Nihayah Fi Ghoribil Hadits, 2/331).
Menurut para ulama, penyucian Allah Ta’ala mengandung peniadaan semua kekurangan. Kalau meniadakan semua kekurangan Allah Ta’la tidak tersisa dari sifat-Nya melainkan yang menunjukkan kesempurnaan.
Banyak ayat yang menyandingkan hamdillah (pujian kepada Allah) karena merasakan kesempurnaan ini bahkan menjadi suatu keharusan-Nya. Sebagaimana firman Ta’ala: “Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.” (QS. As-Shofat: 180-182)
Menurut Ibnu Katsir ayat ini menjelaskan bahwa Allah Ta’ala membersihkan dirinya Yang Mulia, mensucikan dan berlepas diri dari apa yang dikatakan orang-orang dzalim, pendusta dan melampai batas.
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ maksudnya bagi-Nya seluruh pujian pertama dan terakhir pada setiap kondisi. Ketika pensucian mengandung pembersihan dan berlepas dari kekurangan dengan dalil yang bersesuaian. Menjadi suatu keharusan menetapkan kesempurnaan. Sebagaimana pujian (Al-Hamdu) menunjukkan akan penetapan sifat sempurna secara kesesuaian. Dan menjadi suatu keharusan meniadakan dari kekurangan. Menyandingkan diantara keduanya (tasbih dan hamd) di tempat ini. Dan pada banyak tempat di Al-Qur’an.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/46).
Dalam ayat lain Allah juga berfirman tentang diri-Nya, “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa.” (Al-Anbiya [21]:22)
Menurut as-Sa’di, orang musyrik menyembah makhluk yang tidak bisa memberikan manfaat atau membahayakan dengan meninggalkan sikap keikhlasan kepada Allah, Dzat yang mempunyai seluruh kesempurnaan. Di tanganNya-lah terdapat (kendalli) segala urusan, manfaat, dan bahaya. Ini (perbuatan orang musyrik itu) termasuk (cerminan) tidak adanya taufik Allah padanya, buruknya keberuntungannya, kebodohannya yang parah, dan besarnya ulah kezhalimannya. Sesungguhnya alam semesta ini tidak akan menjadi baik kecuali bila berada di bawah satu sesembahan semata. Sebagaimana tidaklah alam (ini) diadakan kecuali oleh satu pemilik (Rabb).
Alam dalam bentuk yang paling sempurna ditilik dari aspek keindahan dan keteraturan, yang tidak ada celah kekurangan, cacat, pertentangan, dan kontradiksi di dalamnya, mengindikasikan bahwa Dzat yang mengaturnya satu. Pemiliknya satu dan Tuhannya satu.
Andai saja, alam ini mempunyai dua pengatur dan dua pemilik atau lebih dari itu, niscaya aturan geraknya akan carut-marut. Keduanya-duanya akan saling bertentangan dan berlawanan. Jika salah satu dari keduanya ingin menetapkan suatu pengaturan tertentu, sementara pihak lain tidak menghendakinya, niscaya realisasi keinginan mereka berdua secara sekaligus merupakan bentuk kemustahilan.
Dan terealisasinya keinginan salah satu pihak, sementara kehendak yang lain tidak terwujud, menunjukkan kelemahan dan ketidakberdayaan pihak yang lain itu. Sedangkan keserasian dua belah pihak pada satu kesepakatan bulat dalam seluruh perkara adalah tidak mungkin juga. Oleh karenanya, menjadi sebuah kepastian bahwa Dzat yang Perkasa yang kehendakNya semata yang dapat terwujudkan (sesuatu) tanpa ada penentang atau penyanggah, Dia adalah Allah Yang Mahasatu lagi Mahaperkasa. (Tafsir as-Sa’di, hal, 607).
Selain ayat-ayat di atas juga banyak ayat yan menjelaskan tentang kesempurnaan sifat Allah yang terangkum dalam asmaul husna.
Karena itu para ulama mensifati Allah Ta’ala dengan kesempurnaan mutlak. Menurut Ibnu Tamiyah, kesempurnaan merupakan ketetapan untuk Allah. Bahkan yang tetap untuk-Nya puncak dari kesempurnaan yang menyeluruh.
Dimana adanya kesempurnaan yang tidak ada kekurangannya kecuali Dia yang tetap untuk Tuhan yang berhak untuk Dirinya yang Maha suci. Penetapaan hal itu mengharuskan meniadaakan kebalikannya. Sehingga menetapkan Maha Hidup mengharuskan meniadakan kematian. Dan menetapkan ilmu mengharuskan meniadakan ketidak tahuan. Dan menetapkan kemampuan mengharuskan meniadakn kelemahan. Bahwa kesempurnaan ini tetap bagi-Nya dari sisi dalil akal dan dalil keyakinan. Disertai dalil-dalil sam’i –maksudnya nash wahyu- akan hal itu.” (Majmu Fatawa, 6/71).
Adapun kaum Yahudi masih berangapan Allah memiliki kelemahan sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an, ““Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu.” (Al Ma’idah: 64).
Berdasar penjelasan di atas kaum Muslimin wajib meyakini kesempurnaan Allah. Hanya orang-orang yang lemah iman dan pendek pikiran yang meragukan kesempurnaan Allah. (Bahrul Ulum)

