Benarkah Tuhan Tidak Terlibat Urusan Alam?

Deisme adalah salah satu paham yang membahas tentang konsep ketuhanan berdasar rasio. Paham ini mendukung agama alam (natural religion) yang menekankan pada aspek moralitas tetapi menyangkal intervensi Tuhan dalam hukum alam. Dengan kata lain, aliran filsafat ini meyakini bahwa Tuhan telah menciptakan alam semesta beserta hukum-hukumnya.

Setelah itu alam berjalan sesuai kaidah hukum yang telah ditetapkanNya  tanpa sama sekali ada campur tangan Tuhan. Mereka  menggambarkan sosok Tuhan seolah-olah sebagai perancang jam, yang menciptakan sebuah jam, menarik per nya, dan membiarkannya bekerja. Dalam hal ini A. H. Strong, menggambarkan Deisme sebagai  pandangan yang merepresentasikan alam semesta sebagai mekanisme self-sustained dari Tuhan yang menarik diri segera setelah Dia menciptakan alam. (Charles Hodge, Systematic Theology, hal. 414).

Deisme juga menolak dan menafikan wahyu sebagai sumber pengetahuan Ilahi. Logika akal dan pengamatan terhadap alam cukup untuk membuktikan kewujudan “Yang Maha Kuasa” atau “Dewa pencipta”.

Kaum Deis percaya kepada Tuhan, tetapi mereka tidak memiliki seperangkat sistem peribadatan kepada Tuhan. Karakteristik mereka yaitu mereduksi fungsi Tuhan di dalam penciptaan alam semesta hanya pada penyebab pertama dan tidak ada keterlibatan lebih lanjut. Mereka juga menolak doktrin-doktrin agama, seperti tritunggal, inkarnasi, otoritas dan orisinalitas kitab suci, taubat, keajaiban/mukjizat, dan tindakan yang bersifat gaib dalam sejarah.(Elwell, Evangelical Dictionary, hal. 304).

Bagi penganut Deis, natural religion adalah bentuk keimanan paling awal dalam sejarah umat manusia. Dengan kata lain, mereka menganggap natural religion sebagai bentuk paling awal dalam model keberagamaan manusia, yang kemudian berevolusi menjadi Theisme dengan segala variannya, dari Politeisme hingga Monoteisme. Aliran ini ingin menawarkan konsep agama kemanusiaan yang orisinil dan alami, agar manusia bisa hidup dengan keimanan tersebut dalam damai dan ketenangan dengan persaudaraan universal seluruh umat manusia.

Konsep keimanan semacam ini, tentu sangat kontras dengan dogma keimanan yang dirumuskan  agama formal, seperti Yahudi, Kristen, dan Islam.  Oleh sebab itu, pemikiran tersebut tidak dapat diterima karena Deisme memposisikan manusia sebagai pusat (antroposentrisme) dan bukan Tuhan (teosentrisme). Apalagi mereka meniadakan Tuhan dari alam yang mengakibatkan hilangnya kesakralan alam. Alam hanya dipandang sebagai objek.

Demikian juga akal dijadikan sumber pengetahuan dan sebagai tolak ukurnya. Akibatnya, manusia mejadi rasionalistik-empiris yang menolak eksistensi aspek-aspek metafisik yang ada dalam ajaran agama.

Allah Maha Pengatur Segala Urusan  

Dalam Islam, Tuhanlah yang mengatur alam raya ini. Hal ini dinyatakan oleh Allah Ta’ala sendiri:“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu” (As Sajadah[32]: 5-6).

Demikian juga dalam ayat lain ditegaskan:“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa`at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?” (Yunus[10]: 3).

Kata “Ad Tadbiir” adalah menurunkan urusan sesuai dengan urutannya berdasarkan hukum akibat yang menyertainya (Tafsir al-Basith: 11/121).  Adapun kalimat: “Yudabbirul Amr” adalah mengatur urusan para makhluk dengan aturan yang rinci dan hikmah yang tinggi” (Tafsir al Wasith – Majma’ Al Buhuts al Islamiyah, 4/50).

Termasuk bagian dari tadbirullah (pengaturan Allah Ta’ala) kepada makhluk adalah ‘inayah (pertolongan-Nya) kepada mereka. Petunjuk dari pertolongan tersebut dinamakan petunjuk aturan atau keserasian. Yang akan membuka seorang hamba untuk menganalisa dan berfikir pada alam semesta dan semua makhluk yang ada di dalamnya. Juga semua kondisi yang menuntunnya sesuai dengan pertolongan Allah terkait dengan alam semesta ini.  Tidak ada perbedaan yang signifikan antara “inayah” (pertolongan) dan “tadbiir” (pengaturan). Hanya saja pengaturan adalah perkara yang lebih umum dari pada pertolongan.

Di antara ayat-ayat Al Qur’an yang tertera sebagai dalil pertolongan-Nya adalah:“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk. Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya. Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya” (Al Anbiya’[21]: 31-33)

Secara faktual juga tidak bisa dinafiikan bahwa di alam semesta ini terdapat keteraturan yang detail, keserasian antar bagian alam semesta yang lain. Semua itu menunjukkan dengan pasti atas pertolongan yang sempurna pada alam semesta ini dan apa yang ada di dalamnya.

Semua itu pasti ada yang mengaturnya. Karenanya, mereka yang melihat fenomena yang menakjubkan tidak ada ruang baginya kecuali beriman kepada ke-Esaan Allah Ta’ala. Akal  sehat akan mengakui jika ada rumah rapi dan teratur, pertama kali perhatian kita akan tertuju pada sosok yang mengatur rumah (Aqidatu At Tauhid fii Al Qur’an Al Karim, 147-149).

Berdasar keterangan di atas tidak ada alasan bagi seorang Muslim terpengaruh pemikiran kaum Deis yang tidak utuh melihat fenomena alam ini. (Bahrul Ulum)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top