Sebagian fiosof berpendapat bahwa Tuhan tidak adil. Munculnya penilaian tersebut karena mereka berpikir kehidupan sekarang ini satu-satunya yang ada. Mereka tidak percaya adanya kehidupan setelah kematian. Sedang orang beriman meyakininya bahwa kehidupan yang hakiki adalah kehidupan setelah kematian.
Dzat yang menciptakan kematian dan kehidupan adalah Dzat yang maha Adil karena Dia memandang hidup di dunia sebagai tempat ujian. Allah berfirman: “Dialah (Allah) yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya. Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” ( Al Mulk 2).
Bukti bahwa kehidupan di dunia ini sebaga ujian yaitu penegasan Allah dalam surat Al Fajr: 15-20, yang intinya, semua bentuk pemberian Allah bukan berarti menjadi bukti cinta Allah. Sebaliknya, keburukan bukan menunjukkan Allah benci dan murka.
Dalam menafsirkan ayat ini Syeikh Sa’di menjelaskan bahwa Allah memberitakan tentang tabiat manusia, yaitu bodoh dan dzalim. Tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada masa mendatang.
Ia mengira bahwa apa yang terjadi dan dialaminya serta dirasakan terus-menerus tidak akan berakhir. Juga mengira bahwa pemuliaan dan nikmat Allah di dunia menunjukkan kemuliaan dan kedekatan di sisi-Nya, dan jika Allah :“…Membatasi rezkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”. (QS. Al Fajr: 16).
Jika hanya cukup untuk makan sehari-hari dan tidak lebih, ia menganggap bahwa Allah menghinakannya, maka Allah menolak semua prasangka tersebut dengan firman-Nya: “Sekali-kali tidak demikian…”.
Yaitu; tidak semua yang Aku berikan nikmat di dunia berarti ia mulia di sisi-Ku, dan tidak semua yang Aku batasi rizekinya berarti Aku menghinakannya. Sesungguhnya kaya dan miskin, lapang dan sempit adalah ujian dari Allah; agar diketahui siapa yang bersyukur dan siapa yang bersabar, dan karenanya ia akan dibalas dengan pahala yang besar.
Dan bagi yang tidak bersyukur atau bersabar maka ia akan diadzab dengan adzab yang hina. Termasuk, ketika seorang hamba lebih mementingkan kebutuhannya sendiri saja, maka itu adalah cita-cita yang lemah. Oleh karenanya, Allah mencela orang-orang yang tidak mementingkan keadaan masyarakat sekitar yang membutuhkan (Tasfir as Sa’di: 934)
Bukti adanya kedilan Allah yaitu semua perbuatan manusia akan mendapatkan balasan, walau kebaikan atau keburukan tersebut sebesar biji sawi (zarra) sekalipun. Demikian juga Allah hanya membebankan kepada manusia apa-apa yang bisa ia pikul sesuai dengan kemampuannya.
Bukti lainnya, Allah SWT memberikan rezeki kepada semua makhluk-Nya tanpa terkecuali sesuai dengan kebutuhan mereka. Keadilan Allah juga ditunjukkan bagi orang yang terdzalimi doanya tidak memiliki penghalang, termasuk orang kafir sekalipun.
Berdasar keterangan tersebut, seorang Muslim harus meyakini adil adalah salah satu sifat Allah, dan tidak adil menjadi sesuatu yang mustahil bagi-Nya. Dengan mengamati ciptaan Allah yang luas, juga dengan banyak membaca, mata kita akan terbuka melihat betapa adilnya Allah.
Keadilan Allah didasari ilmu pengetahuan-Nya yang Maha Luas, sehingga tidak mungkin keputusan-Nya salah. Allah berfirman;” Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (al-An’am:59).
Allah disifati al-‘adl karena keadilan Allah itu sempurna. Semua yang diciptakan dan ditentukan-Nya selalu menunjukkan keadilan yang sempurna. Hanya saja, banyak di antara manusia yang tidak menyadari atau tidak mampu menjangkau keadilan Allah terhadap apa yang terjadi pada makhluk-Nya.
Allah Yang Maha Adil itu menempatkan semua manusia pada posisi yang sama dan sederajat. Tidak ada yang ditinggikan hanya karena keturunan, kekayaan atau jabatan. Dekat jauhnya posisi seseorang dengan Allah hanya diukur dari seberapa besar takwanya. Makin tinggi takwa seseorang, makin tinggi pula posisi dan derajatnya di sisi Allah. Ketakwaan bisa ditempuh dan dilakukan oleh siapa saja, dalam kesempatan yang sama, baik kaya maupun miskin, pejabat maupun rakyat jelata (QS. Al-Hujurat: 13).
Akal manusia terlalu terbatas untuk mengupas semua keadilan-Nya. Ironisnya, karena disebabkan tidak sanggup mengupasnya, lalu mereka tidak dapat menerimanya. Manusia adalah makhluk yang perhitungan, kebanyakan menilai sesuatu atas untung dan rugi.
Jika keadilan dinilai dari neraca untung rugi, itu namanya bukan keadilan, tapi sudah masuk prinsip ekonomi. Berarti manusia yang seperti ini tidak akan pernah merasakan keadilan selamanya. Ia akan terus merasa rugi dan hidupnya tidak akan pernah tenang. Bahkan mereka tidak akan dapat berkembang, stuck dan menderita pada titik itu saja. (Bahrul Ulum)

