Kesempurnaan Ilmu Tuhan Menurut Islam

Jika sebagian filosof berpendapat bahwa ilmu Tuhan tidak sempurna, sedang dalam Islam, Tuhan Maha Sempurna ilmunya. Banyak dalil, baik naqli atau aqli yang membuktikan kesempurnaan tersebut.

Al-Alim merupakan salah satu dari asmaul husna yang berarti Maha Mengetahui. Allah SWT mengetahui segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, baik sebelum ataupun sesudahnya.

Buktinya, sesuatu yang sudah terjadi dan yang belum terjadi yang termaktub dalam Al-Qur’an tidak ada penyangkalan. Bahkan bukti-bukti nyata yang berasal dari isyarat dalam al-Quran membuat orang beriman kepada Allah,

Jika Allah tidak Al-Alim, tidak mungkin Al-Qur’an menceritakan sesuatu yang akan datang.  Ini  salah satu bukti bahwa Allah Maha Mengetahui, baik yang zahir maupun yang batin, baik yang terjadi saat ini maupun yang belum terjadi.

Al-Qur’an menjelaskan bahwa Allah Maha Tahu segalanya, baik yang besar atau yang kecil. Allah berfirman: ”Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).”(Yunus[10]: 61).

Demikian juga dalam ayat lain Allah berfirman:”Katakanlah: “Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu, padahal Allah mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu?”(Al-Hujurat [49]: 16).

Dalil hadits,  dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Kebiasaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada waktu kesusahan, ‘Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allâh, Pemilik singgasana yang agung. Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allâh, Pemilik langit dan bumi, dan Pemilik singgasana yang mulia”. [Riwayat  Al-Bukhari]

Adapun dalil akal bahwa Allah Maha Mengetahui adalah bahwa Allah itu Pencipta, sedangkan selain-Nya adalah makhluk. Akal menetapkan bahwa Pencipta pasti mengetahui makhluk-Nya.  Allah berfirman:”Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui? (Al-Mulk [67]: 14).

Berdasar keterangan tersebut, kaum Muslimin sepakat menetapkan sifat ilmu (mengetahui) bagi Allah Ta’ala.  Ilmu Allah juga sempurna, bersifat azali dan abadi. Azali artinya ada semenjak dahulu, sedangkan abadi artinya selalu ada pada-Nya.

Imam Thahawi menegaskan bahwa tiada sesuatupun yang tersembunyi bagi-Nya sebelum Dia menciptakan mereka. Bahkan Dia mengetahui apa yang akan mereka kerjakan, juga sebelum menciptakan mereka. (Matan Aqidah Thahawiyah, hal. 11)

Ibnu Qayyim menambahi bahwa Dialah (Allah)  Yang Maha Berilmu, ilmu-Nya meliputi segala yang berada di alam, baik yang tersembunyi maupun yang tampak. Dalam segala sesuatu ada ilmu-Nya, Yang Mahasuci. Dialah yang meliputi segala sesuatu dan tidak memiliki sifat lupa.

Dan Dia mengetahui apa yang akan terjadi besok dan apa yang telah terjadi serta yang sedang terjadi pada waktu ini. Juga, Dia mengetahui urusan yang belum terjadi seandainya itu terjadi, bagaimana terjadinya sesuatu yang mungkin tersebut. (Qasidah nuniyah ibnul qayyim, hal. 109)

Para ulama juga menjelaskan bahwa mustahil bagi Allah untuk mengadakan/menciptakan sesuatu tanpa ilmu. Allah menciptakan sesuatu dengan kehendak-Nya. Kehendak-Nya terhadap sesuatu mengandung pengetahuan terhadap apa yang dikehendaki-Nya. Misalnya firman-Nya: “Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui; dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui?” (al-Mulk: 14).

Ini menjadi bukti bahwa Penciptanya sangat berilmu. Sebab, menurut kebiasaan, tidak mungkin itu semua terjadi dari selain Dzat yang tidak berilmu. Di antara makhluk ada yang berilmu, dan ilmu adalah sifat kesempurnaan. Seandainya Allah subhanahu wa ta’ala tidak berilmu, berarti ada di antara makhluk ada yang lebih sempurna dari-Nya. Ilmu yang ada pada makhluk sesungguhnya berasal dari Penciptanya.

Dengan demikian, Pemberi kesempurnaan itu lebih berhak menyandang kesempurnaan tersebut. Sebab, sesuatu yang tidak memiliki, tidak mungkin bisa memberi. (Syaikh Muhammad Khalil Harras , Syarah Nuniyyah, 2/73—75)

Dalam hal ini Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata, “Oleh karena itu ilmu Allâh Azza wa Jalla tidak didahului dengan ketidaktahuan, dan tidak disusul dengan lupa, sebagaimana Nabi Musa Alaihissalam berkata kepada Fir’aun: Musa menjawab, “Pengetahuan tentang (keadaan umat-umat yang dahulu) itu ada di sisi Rabbku, di dalam sebuah kitab, Rabb kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa”. (Thaha [20]: 52). Berbeda dengan ilmu (pengetahuan) makhluk yang didahului dengan ketidaktahuan, dan tidak disusul dengan lupa.” (Syarah Aqidah Wasithiyah, 1/194)

Di antara buah mengimani Allah Maha Mengetahui yaitu agar manusia sadar bahwa Dia mengetahui segala sesuatu sampai hal-hal yang terkecil, baik yang di dasar lautan maupun yang di dalam bumi, demikian juga yang ada dalam lubuk hati. Bagaimanapun amal dan ucapan kita, Allah Maha Mengetahuinya.

Hal ini menuntut kita semua untuk takut kepada Allah dalam segala keadaan dan di setiap tempat. Walaupun kita melakukannya di malam hari, di tempat yang gelap dan sepi, Allah subhanahu wa ta’ala sangat mengetahuinya.

Karenanya setiap orang beriman harus ingat bahwa balasan Allah sudah menanti. Rahmat dan taufik-Nya selalu kita harapkan agar Dia selalu membimbing kita ke jalan yang lurus. Aamiin. (Bahrul Ulum)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top