Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang beranggapan manusia mempunyai kebebasan bertindak. Karenanya, tidak boleh terbelenggu oleh aktifitas lain yang membuatnya kehilangan hakikat hidupnya sebagai manusia yang bereksistensi. Filsafat ini memunculkan aliran ateitis yang beranggapan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam bereksistensi yang terlepas dari kehendak Tuhan.
Menurut aliran ini, kebebasan merupakan nilai mendasar dalam kehidupan manusia. Ketiadaan kebebasan berarti ketiadaan proses eksistensial kehidupan manusia. Bahkan kebebasan sebagai prasyarat paling fundamental bagi pertanggungjawaban manusia (Madjid Fakry, Ethical Theories in Islam, hal. 19)
Pemikiran di atas secara logika sangat lemah. Faktanya, kebebasan manusia bukan karena manusia harus dihukumi untuk bebas. Melainkan didapatkan dari kreativitas manusia sendiri. Kebebasan bukanlah nilai atau modus eksistensi manusia, melainkan kehidupan itu sendiri. Artinya, kebebasan bukan sebagai ketiadaan, melainkan sebagai ke-ada-an.
Ketika bicara tentang ketiadaan, sulit untuk ditegaskan apakah ketiadaan itu ada atau tidak. Apabila dikatakan ketiadaan itu ada, berarti ia bukan ketiadaan lagi, karena ia ada. Apabila dikatakan ketiadaan itu tidak ada, berarti yang ada bukanlah ketiadaan melainkan ke-ada-an. Jika ketiadaan itu adalah asal dari manusia, maka manusia selalu melakukan nihilasi atau peniadaan terhadap putusan-putusan pilihannya yang telah menjadi masa lampaunya. Artinya, manusia tidak pernah menyatakan afirmasi (penetapan yang positif red) terhadap realitas. Ini sesuatu yang menyalahi fakta.
Adapun penolakan terhadap Tuhan dengan dalih Tuhan menyebabkan terkungkungnya kebebasan manusia oleh esensi-esensi yang diciptakan Tuhan, tidaklah tepat. Sebab kemudian mereka mengukuhkan “Tuhan” baru, yakni ketiadaan. Esensi dari Tuhan baru ini mewujud dalam bentuk “keabadian-peniadaan” atau “keabadiannihilasi,” yang berarti juga bentuk penetapan. Padahal bukan merupakan determinasi jika manusia tidak hanya melakukan aktivitas nihilasi, tetapi secara bebas juga melakukan hal sebaliknya. Ini tentu tidak menyalahi arti kebebasan dan tidak harus diartikan kontradiksi.
Dan yang paling urgen, bahwa kebebasan tidaklah merupakan hasil pemberian manusia kepada dirinya sendiri. Tidak ada aliran filsafat yang mengajarkan bahwa manusia sendirilah yang memberikan kebebasan bagi dirinya. Karenanya, mengapa harus mengingkari bahwa kebebasan tersebut dianugerahkan kepada manusia oleh Tuhan.
Demikian juga ketika aliran eksistensialisme menolak keberadaan Tuhan karena keyakinannya pada pandangan siklus alam ini secara abadi, juga sangat lemah. Sebab pemikiran tersebut mengandung pengertian, tidak ada permulaan atau akhir dari energi yang terus aktif, tidak ada keseimbangan, tidak ada awal dan akhir perubahan. Demikian juga tidak ada kejadian baru di alam semesta ini. Apa pun yang terjadi sekarang telah terjadi sebelumnya. Demikian juga sejumlah waktu yang tidak terbatas, dan akan terus terjadi pada sejumlah waktu yang tidak terbatas di masa depan.
Padahal faktanya tidak demikian, tetapi sebaliknya. Misalnya, setiap yang awal ada yang akhir. Karenanya, tidak salah jika dikatakan bahwa pemikiran tersebut merupakan suatu jenis mekanisme yang rapi, yang tidak didasarkan pada suatu fakta yang diketahui, melainkan sebatas pada hipotesa ilmu (Mohammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, hal, 115).
Ketika Tuhan sebagai sumber keabadian diganti dengan pandangan siklus alam, kebebasan yang dimaksudkan menjadi semu, bahkan ilusif, karena peristiwa-peristiwa yang terjadi hanyalah perulangan abadi. Bahkan mereka juga tidak akan mampu menjelaskan awal dan akhir keberadaan manusia. Ketika mereka menggunakan doktrin eternal recurrence (perulangan keabadian), justru membuat kebebasan manusia mirip seperti kerja mekanik robot. Karena manusia dalam putaran roda sejarah tidak lebih seperti robot dengan mekanik putar. Jika diputar, ia akan bergerak dan kemudian berhenti. Pola gerak itu akan selalu sama meskipun mesin diputar berulang-ulang. Bila manusia digambarkan seperti itu, berarti manusia tidak punya nilai dan makna. Bahkan lebih rendah dibanding hewan. (Bahrul Ulum)

