Benarkah Tuhan Hanya Imajinasi Manusia?

Ludwig Andreas Feuerbach (1804-1872) menyatakan bahwa Tuhan dalam agama adalah produk kesadaran manusia. Artinya Tuhan hanyalah merupakan proyeksi dari kualitas kodrati manusia itu sendiri.  Dengan demikian agama tak lebih daripada intuisi manusia akan kodratnya sendiri (L. Feuerbach,The Essence of Christianity, hal. 103).

Bagi Feuerbach, ketika seseorang berhubungan dengan Tuhan dalam agama, sebenarnya terkait dengan suatu objek yang tak lain daripada dirinya sendiri. Tuhan dianggap sebagai produk imajinasi manusia ketika dihadapkan pada keterbatasan-keterbatasan yang dialaminya saat ingin mewujudkan keinginan-keinginannya.

Pemikiran Feuerbach ini didasari keinginannya untuk mengangkat derajat manusia ketika kemanusiaan bukan lagi berpusat pada manusia karena digantikan oleh Tuhan dalam agama. Posisi manusia menjadi rendah karena adanya peninggihan Tuhan,  padahal Tuhan adalah ciptaan kesadaran manusia (L. Feuerbach, Lectures on the Essence of Religion, Harper and Row, hal. 22).

Pemikiran Feuerbach itu sebenarnya didasari oleh kekecewaannya kepada Tuhan. Putri semata wayangnya yang menurutnya sangat baik meninggal dunia. Ia kemudian menyalahkan Tuhan dan menganggap Tuhan tidak punya kemampuan melindungi orang-orang baik. Bagi Feuerbach, Tuhan tak ubahnya sama dengan manusia. Bahkan manusia lebih hebat dibanding Tuhan. Karena itu menurutnya, yang disebut Tuhan hakekatnya ada pada diri manusia sendiri. Oleh karena itu manusia harus menarik agama ke dalam dirinya sendiri. Dia harus menolak kepercayaan kepada Tuhan yang maha kuat, maha baik, maha adil, dan maha tahu, agar dia sendiri menjadi kuat, baik adil, dan tahu. Manusia harus membongkar agama supaya dia dapat merealisasikan berbagai potensinya. Dalam hal ini teologi harus menjadi antropologi.

Pemikiran Feuerbach ini mengandung banyak kelemahan. Pemikirannya tentang Tuhan sebagai proyeksi manusia tidak ubahnya memperkuat paham atheisme, yaitu berusaha meniadakan Tuhan. Hanya saja teori proyeksi Feuerbach ini tidak menyentuh pertanyaan mendasar apakah Tuhan itu ada pada dirinya sendiri atau tidak. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa ajaran Feuerbach ini tidak bisa meyakinkan, Tuhan itu tidak ada.

Karenanya menjadi sebuah kebenaran jika dengan proyeksi seperi itu, manusia menempelkan sifat-sifat baiknya kepada Tuhan, yakni sebagai tempat di mana berbagai sifat manusia itu dapat dilekatkan. Atau bisa saja menganggap ajaran agama hanyalah cerminan cita-cita, atau prasangka-prasangka manusia, tetapi hal itu tidak terjadi dengan sendirinya, kecuali berasal dari Tuhan.

Feuerbach juga lupa bahwa pemahaman terhadap Tuhan bukan hanya produk yang bersifat imajinatif. Tetapi muncul dari pengalaman historis eksistensial yang dialami manusia sejak dulu. Inilah yang disebut iman kepada Tuhan.  Kekuatan iman ini yang mampu mengubah hidup banyak orang. Bahkan dengan bertuhan, manusia tetap  bisa meneguhkan rasa kemanusiaan dan cinta pada sesama.

Disamping itu salah satu indikasi adanya wujud Tuhan yaitu apa yang dirasakan seseorang saat berhadapan dengan kekuasaan-Nya seperti adanya angin kencang, laut yang bergolak, gempa bumi, dan gunung berapi. Kecerdasan manusia ternyata tidak mampu menghadapi fenomena alam tersebut. Bagi orang yang berfikir, hal tersebut menjadi perenungan bahwa ada dzat yang maha dasyat yang mampu menggerakkan alam ini.

Demikian juga keteraturan fenomena alam merupakan pertanda adanya Sang Pencipta. Ini artinya alam semesta beserta segala proses kausalnya merupakan pertanda atau bukti yang terpenting mengenai penciptanya (Sayyed Hossein Nasr, Science and Civilization in Islam, hal. 90).

Disamping itu pengakuan keberadaan Tuhan yang hakiki,  merupakan fitrah manusia. Ini ditegasakan dalam semua agama. Dalam al-Qur’an Allah berfirman: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fithrah itu).” (al- Rum [30]: 30).  Ayat ini menurut Ibnu ‘Asyur menjelaskan bahwa fitrah manusia berarti penciptaan manusia (Tafsir al-Tahrir wa al- Tanwir, Juz XVIII-XXI/89-90).

Fitrah bertuhan berarti manusia diciptakan Allah dengan membawa naluri bertuhan, yakni Tuhan Yang Maha Esa, atau membawa naluri beragama, yakni agama tauhid (Islam). Kata ‘fithrah Allah’ pada ayat tersebut berarti ciptaan Allah.

Ayat di atas juga menunjukkan bahwa dalam diri setiap manusia ada fitrah keagamaan serta pengakuan akan keesaan Allah. Dengan fitrah ini, dalam diri setiap orang terdapat insting yang membuatnya mampu merasakan adanya Allah. Bahkan orang yang mengingkarinya sekalipun akan merasakan insting ini. Mereka mungkin berusaha mengingkari-Nya, tetapi hati mereka meyakini-Nya.

Dari di sini dapat disimpulkan, vonis Feuerbach bahwa Tuhan dan agama hanyalah proyeksi manusia merupakan pemaksaan yang tidak berdasar. Sebab faktanya, kebutuhan manusia akan Tuhan dan agama melebihi semua kebutuhan hidupnya.  (Bahrul Ulum)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top