Resiko Mendukung Pemimpin Dzalim

Dalam sebuah Hadits disebutkan.

عَنْ كَعْبٍ بْنِ عُجْرَةَ قاَلَ: خَرَجَ إِلَيْنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَنَحْنُ تِسْعَةٌ خَمْسَةٌ وَ أَرْبَعَةٌ أَحَدُ الْعَدَدَيْنِ مِنَ الْعَرَبِ وَاْلآخَرُ مِنَ اْلعَجَمِ فَقَالَ إِسْمَعُوْا هَلْ سَمِعْتُمْ أَنَّهُ سَيَكُوْنُ بَعْدِيْ أُمَرَاءُ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الْحَوْضَ.

“Dari Ka’ab bin ‘Ujrah (diriwayatkan) ia berkata: Rasulullah saw menghampiri kami, kami berjumlah sembilan, lima, dan empat. Salah satu bilangan (kelompok) dari Arab sementara yang lain dari ‘Ajam. Beliau bersabda: Dengarkan, apa kalian telah mendengar bahwa sepeninggalku nanti akan ada pemimpin-pemimpin, barangsiapa yang memasuki (berpihak kepada) mereka lalu membenarkan kedustaan mereka serta menolong kedzaliman mereka, ia tidak termasuk golonganku dan tidak akan mendatangi telagaku. “(Riwayat Tirmidzi, Baihaqi, Hakim)

Muqadimah

Dalam Islam, kejujuran dan keadilan adalah nilai-nilai penting yang sangat ditekankan. Menurut pandangan Islam, pemimpin yang berdusta atau tidak jujur akan merusak keadilan dan integritas dalam masyarakat.

Oleh karena itu, Islam mengajarkan agar umat Muslim tidak memberikan dukungan kepada pemimpin yang berdusta atau tidak jujur.

Beberapa alasan mengapa Islam melarang mendukung pemimpin yang berdusta yaitu karena keadilan dan kebenaran adalah prinsip-prinsip sentral dalam Islam.

Pemimpin yang berdusta dapat mengambil kebijakan yang tidak adil atau menyesatkan masyarakat, yang akan berdampak negatif pada kesejahteraan umat dan masyarakat secara keseluruhan.

Dia pasti akan mengabaikan tanggung jawabnya dan mungkin akan mengambil keputusan yang merugikan masyarakat. Padahal pemimpin itu memiliki tanggung jawab moral dan akuntabilitas terhadap rakyat yang dipimpinnya.

Makna Hadits

Menurut para ulama, Hadits tersebut mengandung peringatan kepada kaum muslimin agar tidak menjadi bagian dari kelompok yang mencintai dan mendukung pemimpin yang dzalim (Al-Baghawi, Syarh al-Sunnah,  vo.8, hlm. 8).

Setiap Muslim memiliki tanggung jawab moral dan etika untuk memilih pemimpin yang baik dan adil. Karena itu pemilihan pemimpin yang baik dan adil dalam Islam bukan hanya masalah politik, tetapi juga menjadi bagian integral dari tanggung jawab moral dan etika setiap Muslim. Ini berkaitan erat dengan prinsip-prinsip keadilan, kemaslahatan umat, dan menjaga nilai-nilai agama dalam tindakan sehari-hari.

Sebaliknya, Nabi Muhammad mengancam kelompok yang mendukung pemimpin yang dzalim. Rasul tidak menganggap mereka sebagai golongannya.

Karenanya, Nabi mengingatkan umatnya tentang bahaya mendukung atau membantu pemimpin yang melakukan tindakan dzalim, karena tindakan semacam itu tidak sejalan dengan nilai-nilai keadilan dan kebenaran yang dianut oleh Islam.

Adapun sikap yang seharusnya dilakukan oleh ummat Islam yaitu menasehati, menegur atau memberi peringatan kepadanya, bukan malah membela mati-matian dan membenarkan segala hal yang dilakukan oleh pemimpin tersebut.

Namun demikian yang juga perlu diperhatikan adalah bahwa dalam rangka nahi munkar kepada pemimpin yang dzalim itu juga harus dengan cara yang ma’ruf (baik, bijaksana, adil, proporsional dan tidak melanggar ketentuan, baik agama maupun negara).

Hal ini sesuai dengan hadis Nabi saw: “Jihad yang paling utama adalah mengutarakan perkataan yang adil di depan penguasa atau pemimpin yang dzalim” [Riwayat  Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad].

Meski tidak semua umat Islam dapat atau berani menegur dan menasehati pemimpin yang dzalim secara langsung, namun bukan berarti pasrah atau malah membenarkan kedzaliman mereka.

Dalam hal ini, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang melihat kemunkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka ubahlah dengan hatinya. Dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.” [Riwayat  al-Nasa’i, Muslim, Ibnu Majah, al-Tirmidzi, dan lain-lain].

Simpulan

Para pemimpin seyogyanya sadar untuk menjadi imam yang adil, jujur, amanah dan berpihak kepada kemaslahatan rakyat. Dalam sebuah Hadits disebutkan bahwa salah satu golongan yang mendapat perlindungan Allah di hari kiamat yaitu pemimpin yang adil (Riwayat Bukhari).

Di satu sisi, harus ada yang berani menasehati pemimpin yang menyalahi amanahnya. Demikian juga jangan mendukung mereka dalam kedzaliman. (Bahrul Ulum).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top