Al-Quran, Mukjizat Sepanjang Zaman

Kuam Muslimin dari kalangan Ahlusunnah meyakini Al-Quranul Karim merupakan kalamullah, baik lafaznya, hurufnya maupun maknanya.  Allah berbicara dengannya, lalu didengar oleh Jibril alaihissalam, kemudian diturunkan kepada Nabi Muhammad.

Hal ini ditegaskan Ibnu Qudamah, diantara firman Allah Taala adalah Al-Quranul karim. Dia adalah kitab Allah yang nyata.  Tali yang kuat dan jalan yang lurus yang diturunkan dari Tuhan semesta alam melalui ruhul amin (Jibril alaihissalam) ke hati pemimpin para rasul dengan bahasa Arab yang jelas. Dia turunkan dan bukan makhluk. Dari Allah  bermula dan kepada-Nya kembali. Dia adalah surat-surat yang jelas hukumnya, ayat-ayat yang tegas yang berupa huruf-huruf dan kalimat-kalimat. Siapa yang membacanya, setiap satu huruf mendapat sepuluh kebaikan. Ada awal dan akhirnya, ada juz dan bagian-bagiannya. Al quran dibaca dengan lisan, tersimpan dalam dada, terdengar oleh telinga, tertulis dalam mushaf. Di dalamnya ada ayat yang tegas dan masih samar, ada ayat yang menghapus dan dihapus, khusus dan umum, perintah dan larangan. Tidak ada perbedaan di antara kaum muslimin bahwa siapa yang menentang Al-Quran, baik dalam satu surat, satu ayat, satu kalimat atau huruf, disepakati dia adalah kafir. Hal ini menjadi argument yang jelas bahwa dia adalah kumpulan huruf-huruf.” (Lum’atul I’tiqad, hal. 22-28).

Allah menegaskan bahwa Al-Quran terpelihara dengan baik. Allah berfiman:

إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya dia adalah Al-Quran yang mulia. Pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuz). Tidak menyentuhnya kecuali orang yang disucikan. Diturunkan dari rabbul alamin.” (Al-Waqiah [56]: 77-80)

Menurut Syaikh Wahbah az-Zuhaili, sesungguhnya wahyu yang diberikan kepada Nabi Muhammad  adalah Al-Qur’an yang mengandung banyak kebaikan dan kemanfaatan. Dijaga oleh Allah di Lauh Mahfuz dari pemalsuan dan perubahan. Berbentuk mushaf atau lembaran terang yang berada di sisi Allah. Tidak akan tersentuh makna Al-Quran kecuali orang yang suci dari dosa, yaitu para Malaikat, atau juga tidak boleh menyentuhnya kecuali orang yang suci dari hadas/dalam keadaan berwudhu. Al-Quran diturunkan Allah Ta’ala Tuhan semesta alam seluruhnya ke dalam hati Nabi Muhammad SAW. (Tafsir Al-Wajiz , hal. 537-538).

Syaikh as Sa’di menegaskan bahwasanya al-Quran itu “sangat mulia” maksudnya, (mengandung) kebaikan yang sangat banyak dan ilmu yang sangat melimpah. Semua kebaikan dan ilmu hanya diambil dan diintisarikan dari Kitabullah itu. Berada pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh) yaitu terpelihara dari mata para makhluk. Kitab yang terpelihara ini adalah Lauhul Mahfuzh, maksudnya bahwa al-Quran ini termaktub di Lauhul Mahfuzh, teragungkan di sisi Allah dan di sisi para malaikat di al-Malaul a’la. Ada (juga) kemungkinan bahwa yang dimaksud dengan kitab yang terpelihara adalah kitab yang berada di tangan para malaikat yang Allah turunkan untuk menyampaikan wahyu dan risalahNya. Terpelihara dari para setan, yang mana mereka tidak mampu merubahnya, menambah dan mengurangi maupun mencurinya. Maksudnya bahwa al-Quran itu tidak disentuh kecuali oleh para malaikat yang mulia, yang mana Allah telah menyucikan mereka dari segala kesalahan, dosa, dan cela. Adapun makhluk-makhluk yang keji dan setan-setan tidak memiliki kemampuan maupun kekuatan menyentuhnya. Berarti ayat ini menunjukkan adanya peringatan bahwasanya tidaklah boleh menyentuh al-Quran kecuali orang yang suci, sebagaimana disebutkan di dalam hadist Rasulullah. Karena itulah ada yang berpendapat bahwa ayat ini merupakan khabar yang bermakna larangan, maksudnya tidak boleh menyentuh al-Quran kecuali orang yang suci. Al-Quran menyandang predikat yang mulia yang diturunkan dari Rabb semesta alam. Yang mengatur para hambaNya dengan berbagai macam nikmatNya, baik kenikmatan agama maupun kenikmatan dunia. Dan pengaturan Allah yang paling agung bagi hamba-hambaNya adalah dengan menurunkan al-Quran yang mencakup kemaslahatan dunia dan akhirat. Dan dengannya Allah telah merahmati para hamba dengan rahmat yang tidak mampu mereka syukuri, dan dari apa yang wajib bagi mereka untuk menegakkannya, mengumumkannya, berdakwah kepadanya, dan menjelaskannya. (Tafsir as-Sa’di, hal. 985).

Menurut Ibnu Katsir, Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad benar-benar kitab yang besar. Tersimpan di dalam kitab yang dimuliakan lagi terpelihara dan diagungkan, yaitu Lauh Mahfuz. Menurut Ibnu Jarir mengaambil pendapat Qatadah, tidak ada yang menyentuhnya di sisi Allah kecuali hamba-hamba yang disucikan. Adapun di dunia, sesungguhnya dapat dipegang oleh orang Majusi yang najis dan orang munafik yang kotor

Ibnu Zaid mengatakan,orang-orang Quraisy menduga Al-Qur’an diturunkan oleh setan. Maka Allah menerangkan kitab ini tidak dapat disentuh kecuali oleh hamba-hamba yang disucikan, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: “Dan Al-Qur’an itu bukanlah dibawa turun oleh setan-setan. Dan tidaklah patut mereka membawa turun Al-Qur’an itu, dan mereka pun tidak akan kuasa. Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan dari mendengar Al-Qur’an itu. (Asy-Syu’ara: 210-212).

Al-Qur’an juga bukan seperti apa yang disangka mereka sebagai sihir, atau tenung atau syair. Bahkan Al-Qur’an itu benar yang tiada keraguan padanya, dan tiadalah di baliknya perkara hak yang bermanfaat. (Tafsir Ibnu Katsir, hal. 1818-1819).

Mukjizat Teragung

Allah memberikan mukjizat kepada para Nabinya. Semua mukjizat tersebut  dibatasi oleh ruang dan waktu, yang hanya diperlihatkan kepada umat tertentu dan masa tertentu. Sedangkan mukjizat al-Qur‟an bersifat universal dan abadi,  berlaku untuk semua umat manusia sampai akhir zaman. Karena itu, al-Qur‟an  sebagai mukjizat terbesar dari semua mukjizat-mukjizat Allah yang diberikan kepada para Nabi. Selain itu mukjizat-mukjizat tersebut bersifat indrawi. Sedang Al-Qur’an berupa mukjizat ruhiyah yang bersifat rasional, kekal sepanjang masa. Begitu pula mukjizat-mukjizat sebelumnya tidak nampak lagi fisik dan bekasnya, kecuali kisahnya saja yang dapat diketahui melalui pemberitaan al-Qur‟an sebagai mukjizat terbesar Nabi Muhammad Saw.

Karena itu beruntunglah umat Nabi Muhammad yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pegangan hidup dalam seluruh dimensinya. (Bahrul Ulum)

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top