
Oleh: Ismail Nachu (Sekretaris Dewan Penasehat ICMI Jatim)
ak terpungkiri, bahwa kita menjadi manusia karena kasih sayangNya. Berkat ar-Rahman ar-RahimNya, kita hadir di dunia, membawa misi rahmatal lil ‘alamin.
Namun godaan dunia yang membikin kita condong tak setia. Dan mentang-mentang punya mahkota akal, yang tidak dimiliki mahluq lain, kita kerap menjadi sombong dan lupa diri, dan akhirnya lupa Tuhan. Hubungan dengan Tuhan menjadi hubungan benci tapi rindu.
Padahal tanpa bimbinganNya, kehidupan akan menjadi hampa, dan tak punya makna. Dan manusia menjadi tersiksa dengan sendirinya.
Agar supaya kehidupan tetap bermakna, maka menjadi kebutuhan mutlak untuk menghadirkan Tuhan dalam kehidupan. Tapi sayangnya kehidupan modern menyimpan trauma sejarah mengenai hubungan manusia dengan Tuhan yang belum terpecahkan sampai saat ini. Inilah kiranya yang menjadi agenda teologi annas.
Belajar dari sejarah, terkuak beberapa opsi untuk menghadirkan Tuhan dalam kehidupan.
1. Bila Tuhan dihadirkan sebagai Sang Penguasa, maka yang hadir adalah Zeus. Dan nasib manusia akan semata menjadi hamba sahaja. Satu sejarah yang pernah ditampik oleh Promotheus dengan membunuh Zeus, agar supaya manusia tetap ada. Tapi dengan slogan God is Dead manusia justeru menjadi sengsara dalam kesepian dan kegelapan tanpa cahaya.
2. Bila Tuhan yang dihadirkan sebagai Sang Hakim, maka yang hadir adalah Themis. Dan nasib manusia kembali tak berdaya dengan kebebasan yang terampas. Manusia bukan lagi somebody, tapi nobody.
3. Bila Tuhan yang dihadirkan sebagai Sang Pemilik Semesta, maka yang hadir adalah Plutus. Dan nasib manusia menjadi makhluq paling serakah dengan pringai saling pembantai kepada sesama dan alam semesta.
4. Sebagai opsi terbaik adalah menghadirkan Tuhan sebagai Sang Sufi, maka yang hadir adalah Sang Nabi. Dan nasib manusia akan terbebas dari belenggu dunia, dan sebaliknya menjadi hakikat dirinya, seorang abdillah (hamba Tuhan) dan khalifatullah (duta Tuhan) demi terwujud rahmatal lil ‘alamin bagi kehidupan.
Shodaqallahul ‘Adhim.


