
Oleh Ulul Albab
(Ketua ICMI Orwil Jatim)
Saya ingin mengajak Anda untuk sesaat melupakan kebisingan dunia. Cobalah meresapi setiap kata yang akan saya sampaikan tentang seorang manusia luar biasa, yang hidup lebih dari tujuh abad yang lalu, tetapi kata-katanya terus bergema hingga hari ini. Seorang penyair, filosof, dan pemimpin spiritual, yang dalam setiap bait puisinya, memancarkan cahaya cinta yang menghubungkan antara jiwa manusia dengan Sang Pencipta. Dia adalah Jalaluddin Muhammad Rumi, atau lebih dikenal dengan sebutan Rumi.
Rumi lahir pada tahun 1207 di kota Balkh, yang kini berada di wilayah Afghanistan. Pada masa itu, Balkh adalah salah satu pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan dunia Islam. Namun, takdir membawanya untuk meninggalkan tanah kelahirannya ketika pasukan Mongol menyerbu. Dalam perjalanan menuju Konya, yang kini menjadi bagian dari Turki, Rumi bertemu dengan berbagai guru, cendekiawan, dan tokoh spiritual yang memperkaya batinnya.
Namun, siapa sangka bahwa seorang anak yang tumbuh dalam keluarga ilmuwan, yang dipenuhi dengan pembelajaran dan kebijaksanaan itu, akan berkembang menjadi sosok yang melampaui batas-batas intelektualisme. Rumi tidak hanya mencari pengetahuan untuk menguasai dunia, tetapi juga untuk mencari pemahaman yang lebih dalam tentang Sang Pencipta dan hakikat kehidupan.
Masa muda Rumi dipenuhi dengan pencarian. Sebagai seorang ulama, dia mendalami berbagai ilmu agama, matematika, dan astronomi. Namun, hidupnya yang terencana mulai berubah saat ia bertemu dengan seorang dervish sufi, Shams Tabrizi. Pertemuan mereka mengubah segalanya. Shams adalah sosok yang tidak hanya mengajarkan Rumi tentang kehidupan, tetapi juga mengajarkan kepadanya untuk mencintai Tuhan dengan segenap jiwa dan raga. Cinta yang murni, yang melampaui segala bentuk penghalang.
Dari pertemuan ini, Rumi mulai menulis puisi-puisi yang tidak hanya mencerminkan kebijaksanaan Islam, tetapi juga cinta Ilahi yang menyentuh hati siapa pun yang membacanya. Cinta yang mengalir dalam tiap kata Rumi adalah cinta yang menembus batas-batas duniawi, yang mengajak kita semua untuk kembali kepada sumber kehidupan yang sejati. Rumi mengajarkan bahwa pencarian terbesar dalam hidup adalah cinta—cinta kepada Tuhan, cinta kepada sesama, dan cinta kepada diri sendiri.
Saat kita berbicara tentang Generasi Z, saya teringat kembali pada pesan-pesan Rumi. Generasi yang penuh dengan potensi luar biasa ini sering kali terjebak dalam pergulatan dunia maya yang seolah tak ada habisnya. Namun, jika kita perhatikan lebih dalam, Rumi memiliki ajaran yang bisa menyentuh hati mereka. Dalam dunia yang penuh dengan kebisingan ini, Rumi mengajarkan untuk mencari ketenangan dalam diri. Cinta yang tulus, yang bukan hanya tentang duniawi, melainkan cinta yang mampu membimbing jiwa menuju kedamaian dan kebahagiaan yang sejati.
Salah satu pesan Rumi yang paling relevan adalah tentang pentingnya “pencarian”. Dia berkata, “Jangan puas hanya dengan pengetahuan yang Anda miliki, carilah selalu pengetahuan yang lebih dalam, lebih luas, dan lebih murni.” Dalam dunia yang terhubung tanpa batas ini, Generasi Z dituntut untuk terus mencari, bukan hanya dalam hal material, tetapi juga dalam hal spiritual. Mencari kedamaian dalam diri, memahami hakikat cinta, dan menumbuhkan rasa hormat terhadap sesama adalah hal-hal yang dapat mengarahkan mereka untuk menemukan makna yang lebih dalam dalam hidup.
Rumi juga memberikan pelajaran berharga bagi cendekiawan Muslim Indonesia. Kita sering kali terjebak dalam debat tentang teologi dan doktrin agama. Namun, Rumi mengingatkan kita bahwa agama, pada hakikatnya, adalah tentang cinta—cinta kepada Tuhan dan sesama manusia. Dalam setiap pemikiran dan karya intelektual, kita harus menjadikan cinta sebagai inti dari segala sesuatu. Sebagaimana Rumi mengatakan, “Cinta adalah jalan yang menghubungkan segala sesuatu.”
Bagi cendekiawan Muslim Indonesia, Rumi mengajarkan untuk mengutamakan kearifan dalam mengembangkan pemikiran, dengan dasar cinta dan kasih sayang, serta menghargai perbedaan sebagai bagian dari keindahan hidup. Dalam upaya membangun Indonesia yang lebih baik, kita harus bisa menyeimbangkan antara pengetahuan intelektual dengan nilai-nilai spiritual yang mendalam. Hanya dengan itu, kita bisa menciptakan masyarakat yang lebih damai, lebih inklusif, dan lebih cinta kasih.
Bagi Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), Rumi memberi pesan yang tak kalah penting. ICMI adalah rumah bagi para pemikir dan praktisi yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan bangsa. Rumi mengajarkan kepada kita untuk tidak terjebak dalam rutinitas intelektual yang kering, tetapi untuk menjadikan ilmu pengetahuan sebagai sarana untuk mencintai Tuhan dan mencintai sesama. Sebagaimana dalam salah satu puisinya, Rumi berkata, “Jika Anda ingin menjadi sesuatu, jadilah cinta.”
ICMI, sebagai organisasi yang memiliki peran besar dalam membangun masyarakat, harus menjadi wadah yang mengedepankan cinta dan kebijaksanaan dalam setiap langkahnya. Menjadi cendekiawan Muslim bukan hanya tentang menguasai ilmu, tetapi juga tentang menebarkan kasih sayang, keadilan, dan kedamaian kepada seluruh umat manusia. Rumi mengingatkan kita, “Jadilah cermin bagi dunia, agar dunia dapat melihat refleksi Tuhan yang penuh cinta.”
Kisah hidup Rumi adalah kisah yang tak pernah berakhir. Meskipun beliau telah meninggalkan dunia ini pada tahun 1273, namun ajarannya tetap hidup dalam setiap bait puisi dan dalam setiap hati yang merindukan kedamaian. Cinta Ilahi yang beliau ajarkan adalah sebuah cinta yang melampaui waktu, melampaui ruang, dan melampaui batas-batas dunia.
Rumi mengajarkan kita bahwa hidup ini adalah perjalanan cinta yang tidak pernah usai. Cinta yang membawa kita pada kebahagiaan sejati—kebahagiaan yang hanya bisa ditemukan melalui kedekatan dengan Tuhan. Marilah kita merenungkan ajaran beliau, dan menjadikannya sebagai cahaya yang membimbing langkah kita dalam menjalani kehidupan yang penuh makna dan kedamaian. Rumi, penyair cinta Ilahi, telah mengajarkan kita untuk mencintai dengan hati yang tulus, tanpa syarat, dan tanpa batas.



