Benarkah Sains tidak Membutuhkan Agama?

Beberapa orang meyakini bahwa sains (ilmu pengetahuan) adalah metode yang kuat untuk menjelaskan banyak fenomena di alam semesta.  Ia adalah alat yang cukup untuk memahami dunia dan fenomena alam. Karenanya tidak membutuhkan keterlibatan konsep Tuhan atau entitas ilahi dalam menjelaskan fenomena tersebut.

Mereka meyakini bahwa sains dapat memberikan penjelasan yang rasional dan empiris terhadap banyak aspek alam semesta, termasuk asal-usul dan perkembangan kehidupan, fisika alam semesta, dan sebagainya.

Pemahaman di atas tidak sepenuhnya benar. Faktanya, meskipun sains dapat memberikan penjelasan naturalistik terhadap banyak fenomena, ada juga fenomena alam yang tidak bisa  dijelaskan oleh sains.

Ada aspek-aspek kehidupan dan alam semesta yang masih memerlukan konsep Tuhan atau entitas ilahi. Misalkan aspek-aspek metafisik atau spiritual yang berada di luar cakupan penjelasan ilmiah, membutuhkan penjelasan agama dalam memahaminya.

Secara naluria setiap manusia menyadari bahwa agama adalah ekspresi dari salah satu jenis pengalaman mendasar umat manusia, dan prinsip-prinsipnya bersifat abadi. Untuk mencapai hal tersebut memerlukan pengembangan terus-menerus dari setiap orang.

Dalam hal ini, interaksi antara agama dan sains merupakan salah satu faktor besar dalam mendorong perkembangan tersebut. Artinya, meskipun terdapat perdebatan antara sains dan agama, namun keduanya saling membutuhkan dan dapat berjalan beriringan dalam kehidupan manusia.

Banyak kalangan yang berusaha mencari hubungan antara keduanya. Ian G. Barbour mencoba memetakan hubungan sains dan agama dengan membuka kemungkinan interaksi di antara keduanya. Dia berusaha menunjukkan keberagaman posisi yang dapat diambil berkenaan dengan hubungan sains dan agama (Ian G Barbour, When Science Meets Religion, hal.7-39).

Ian G. Barbour memberikan contoh dengan menggunakan  model-model konseptual dan analogi-analogi ketika menjelaskan hal-hal yang tidak bisa diamati secara langsung, seperti: mengapa alam semesta ini ada dalam keteraturan yang dapat dimengerti?

Meskipun studi awal sains dan agama berfokus pada isu-isu metodologis, para penulis dari akhir tahun 1980an hingga tahun 2000an mengembangkan pendekatan kontekstual, termasuk pemeriksaan sejarah yang rinci tentang hubungan antara ilmu pengetahuan dan agama (Brooke 1991).

Mereka berpendapat bahwa sains dan agama sebenarnya dapat bersifat kompatibel dan melengkapi satu sama lain. Sains menjawab pertanyaan “bagaimana” mengenai alam semesta, sedangkan agama menjawab pertanyaan “mengapa” dan memberikan makna moral bagi individu. Pendekatan ini memungkinkan seseorang untuk mempraktikkan ilmu pengetahuan dan kepercayaan agama secara bersamaan.

Karena itu sangat disayangkan jika ada saintis Islam meragukan adanya hubungan antara ilmu pengetahuan dengan Islam. Apalagi secara diam-diam meninggalkan Islam dengan mengikuti  trend yang berlaku pada sebagian saintis Barat yang menganut faham free-thinking alias berpikiran liberal.

Kekecewaannya terhadap sebagian kaum Muslimin yang lebih tertarik pada gerakan sufi palsu yang  irrasionalitas, tidak seyognya menuduh ajaran Islam sebagai sumbernya.

Para saintis Islam mestinya membuktikan bahwa Islam  tidak menentang dan menolak sains. Tetapi Islam bersifat seimbang antara ubudiyah, ilmiah, dan akhlak. Artinya, Islam mendorong kemajuan ilmu pengetahuan untuk kemakmuran ummat manusia sehingga bisa beribadah dengan baik.

Memang Al-Qur’an bukanlah kitab ilmu pengetahuan, tetapi ia memberikan pengetahuan tentang prinsip-prinsip ilmu pengetahuan yang selalu dihubungkan dengan pengetahuan metafisik dan spiritual.

Perintah al-Quran untuk ber-iqra’ “membaca dengan Nama Tuhanmu” semestinya dipahami sebagai pencarian pengetahuan, termasuk didalamnya pengetahuan ilmiah yang didasarkan pada pengetahuan tentang realitas Tuhan.

Ibnu Sina menyatakan, ilmu pengetahuan disebut ilmu pengetahuan yang sejati jika menghubungkan pengetahuan tentang dunia dengan pengetahuan tentang prinsip ke-Tuhanan. Tuhan adalah penyebab tertinggi dalam alam semesta, dan pengetahuan tentang Tuhan adalah bagian integral dari pemahaman tentang dunia ( Ilāhiyyāt, I, 1, 4, 14–17; VIII, 3).

Karenanya tidak ada alasan bagi saintis Muslim menjadi liberal, apalagi menuduh ajaran Islam tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan. (Bahrul Ulum)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top