Kaum theistik percaya bahwa Allah itu ada. Atheis percaya bahwa Allah itu tidak ada. Agnostik menyatakan bahwa manusia tidak boleh percaya atau tidak percaya akan keberadaan Allah karena tidak mungkin mengetahui atau mengingkari-Nya. Bagi mereka, jawaban ada atau tidak, memiliki nilai yang sama karena eksistensi Tuhan tidak bisa dibuktikan secara empiris dan positivistic.
Agnostisisme tumbuh dari aliran-aliran filsafat yang berkembang pada abad ke-19, setelah berlangsungnya aufklarung atau era pencerahan. Paham ini berakar dari empirisme Hume, kritisisme Kant, serta positivisme Comte.
Hubungan antara empirisme Hume dan agnostisisme terletak pada pengakuan akan keterbatasan pengetahuan empiris. Hume menolak setiap sistem, betapapun halus atau cerdiknya, yang tidak didasarkan pada fakta dan observasi (An Enquiry concerning Human Understanding, 1.11/11) .
Empirisme Hume, yang bersifat naturalistik dan tidak menyetujui segala bentuk supernatural dalam penjelasan sifat manusia, mengarah pada pandangan skeptis terhadap pengetahuan tentang Tuhan.
Sedangkan terkait dengan kritisisme Kant, tampak pada gambaran Kant bahwa metafisika muncul di luar alam pengalaman sebagai seekor merpati yang berusaha terbang tanpa udara di bawah sayapnya.
Karena alasan ini, ketika metafisika mengajukan pertanyaan tentang keberadaan Tuhan, jiwa, dunia, kebebasan – semua realitas yang lepas dari jenis pengalaman yang fenomenal – maka metafisika jatuh ke dalam antinomi yang tidak dapat diatasi (lih. Kant, The Critique of Pure …., I, 2, bab 2).
Oleh karena itu, agnostisisme metafisik tidak terdiri dari penyangkalan apriori terhadap realitas tersebut, namun dalam tesis bahwa seseorang tidak dapat memperoleh pengetahuan metafisik apa pun, karena pengetahuan tersebut berada di luar wilayah pengalaman fenomenal. Dari sisi ini, Kant bisa disebut sebagai seorang agnostik.
Adapun akar agnostisisme modern terkait dengan positivisme Comte yaitu pada pembatasan pengetahuan atas fakta yang dapat diamati, serta hubungan-hubungan antara fakta tersebut. Karena itu positivisme menolak setiap bentuk metafisika yamg berdasar pada apriori dan prinsip-prinsip normatif. Sains positif menurut Comte memiliki ciri-citi nyata, berguna, pasti, terperinci, organik serta nisbi.
Periode metafisika –menurut Comte- adalah periode kedua setelah periode teologi. Sedangkan periode terakhir dan tertinggi adalah periode positifistik, yakni periode penyelidikan ilmiah yang bertumpu pada fakta yang terukur dan teramati (Harold H. Titus, Persoalan-persoalan Filsafat, Alih Bahasa, H.M. Rasjidi, hal. 364-5.)
Menurut ketiga aliran, yakni empirisme Hume, kritisisme Kant, dan positivism Comte “Tuhan” dalam perspektif ini tetap sebagai misteri yang tidak bisa ditelusuri lebih lanjut secara filosofis dan ilmu pengetahuan.
Bagi penganut agnostisisme, hal tersebut merupakan “bukti” bahwa memang manusia tidak memiliki pengetahuan apa-apa tentang “Tuhan”, baik untuk memberikan pembenaran ataupun membantah keberadaan-Nya.
Terlepas dari argumen kaum aqnostik tersebut, sebenarnya secara logika argumen mereka sangat lemah. Jika Tuhan dianggap tidak ada, kehidupan mereka akan berhenti pada kematian. Namun jika seandainya Tuhan ada maka mereka akan mengalami sock yang luar biasa karena ternyata setelah kematian ada kehidupan.
Karena itu keberadaan dua posisi antara keyakinan Tuhan tidak dapat dibuktikan atau disangkali, lebih bijaksana dan lebih aman jika percaya pada posisi yang lebih menguntungkan yaitu Tuhan itu ada. Sebab sebagai manusia yang terbatas tidak dapat berharap untuk bisa sepenuhnya memahami Allah yang tidak terbatas.
Sesunguhnya keberadaan Allah mudah diketahui dengan menemukan tanda-tanda keberadaan dan kekuasaan-Nya. Tanda keberadaan Allah ada pada alam dunia ini yang diciptakan dengan sempurna serta beraktivitas sesuai dengan tugasnya masing-masing secara teratur dan sempurna. Tidak mungkin terjadi secara kebetulan semuanya dengan bentuk yang sangat teratur dan sempurna.
Allah Ta’ala berfirman,“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.” (QS. Ali ‘Imran 190-191)
Adapun sesuatu yang tidak terlihat dan tidak kita rasakan dengan panca indra, bukan berarti tidak ada. Seseorang yang ingin memastikan dirinya keturunan manusia, bukan jin atau monyet cukup meyakini bahwa nenek moyangnya benar-benar manusia tanpa harus melakukan pembuktian karena jejak bukti itu sudah gamblang dalam dirinya. (Bahrul Ulum)

