Orang-orang atheis mengaku, kepercayaan mereka merupakan hasil pemikiran rasional. Karenanya, mereka lebih percaya pada sains daripada kepada Tuhan yang diangap tidak ada artinya dan hanya mengganggu kehidupan ini. Tuhan dianggap sebagai penghalang kebebasan manusia. Padahal kebebasan merupakan prasyarat paling fundamental bagi pertanggungjawaban manusia (Madjid Fakry, Ethical Theories in Islam, hal. 19).
Dalam hal ini Friedrich Nietzsche dalam bukunya Thus Spake Zarathustra, menegaskan eksistensi manusia adalah terbuka atas dasar dorongan kehendak bebas dalam dirinya. Karena itu ia mengkritik dominasi teologi Kristen atas pengetahuan dan kebudayaan.
Sedang Jean-Paul Sartre dalam bukunya Existentialism and Human Emotions, memperhatikan secara serius pada masalah ontologis, yaitu perlunya mengkaji ide tentang ada dan juga menekankan ide tentang ketiadaan, walaupun ide ini kemudian oleh Sartre dijabarkan dalam pengertian yang lebih Hegelian daripada Heideggerian (Jean Wahl, A Short History of Existentialism, hal 28.).
Menurut Heidegger, manusia ada tanpa menemukan suatu alasan adanya dia, manusia adalah eksistensi tanpa esensi. Dengan kata lain, esensi-esensi manusia semata-mata hanya merupakan konstruksi-konstruksi dari manusia di dalam proses eksistensinya (Jean Wahl, A Short … hal.14).
Bagi Sartre, karena eksistensi mendahului esensi berarti manusia tidak dapat didefinisikan oleh suatu konsep apa pun. Manusia sendiri yang mengkonstruksi nilai-nilai, norma-norma hukum dan esensinya. Dal hal ini tidak ada determinisme, karena manusia adalah bebas, manusia adalah kebebasannya. Dalam dimensi pemikiran fenomenologis, Sartre mengungkapkan manusia adalah kebebasan “by isolating being-for-itself from facticity.(William A. Luijpen, Existential Phenomenology .hal, 316).
Penggambaran Tuhan sebagai Pencipta dan dengan atributatribut superlative, seperti Maha Tahu, Maha Kuasa, dan Maha Perkasa, menurut Sartre merupakan pandangan yang menghacurkan kebebasan manusia.
Karena manusia direduksi kepada sesuatu seperti a papercutter, kepada wujud, yaitu apa yang ada kepada faktisitas murni, kepada benda. Bagaimanapun, manusia tidaklah demikian, manusia bukanlah apa yang ada, dan apakah dia tidak ada, manusia adalah proyeksi, dan sebagai transendensi manusia adalah pelaksanaan dari proyek itu.( William A. Luijpen, Existential Phenomenology, hal. 316).
Melihat argumen para tokoh atheis, terutama Nietzsche dan Sartre, terdapat problem yang cukup akut dalam pemikiran mereka, yaitu koesistensi antara manusia dan Tuhan. Bagi mereka, kombinasi antara keduanya adalah tidak mungkin.
Jika Tuhan tidak ada, muncul pertanyaan untuk mereka, bagaimana mereka menjelaskan asal-usul adanya manusia? Jika kebenaran adalah subjektif dan subjektivitas itu sendiri, lalu bagaimana mereka menjelaskan kesalahan?
Jika mereka menjawab bahwa adanya manusia pertama kali tidak diciptakan oleh siapa pun, termasuk oleh dirinya sendiri, berarti mereka tidak bisa menjelaskan sebab adanya manusia.
Ini sebuah kelemahan ontologis, atau lebih merupakan suatu simplisitas ontologis. Jadi, penolakan mereka terhadap adanya esensi yang mendeterminasi dan mengkooptasi perilaku manusia, ternyata tidak konsisten.
Jika mereka menolak Tuhan karena alasan kebebasan berarti mereka mengukuhkan “Tuhan” baru, yakni ketiadaan. Ini lebih bermasalah dari sisi epsitemologis karena juga bersifat determinasi. Sebaliknya, bukan merupakan determinasi jika manusia tidak hanya melakukan aktivitas nihilasi, tetapi secara bebas juga melakukan hal sebaliknya. Ini tentu tidak menyalahi arti kebebasan dan tidak harus disebut sebagai kontradiksi.
Keterangan di atas membuktikan bahwa kaum atheis tidak lebih rasional daripada kaum theis. Teori-teori yang mereka ajukan tentang adanya alam tanpa peran Tuhan sangat lemah. Misalnya, Profesor Matematika Oxford John Lennox, mencatat bahwa teori-teori yang diajukan Hawking seperti multisemesta bersifat spekulatif dan tidak dapat diuji dan dengan demikian tidak termasuk dalam sains (John Lennox, C. (2010). God and Stephen Hawking: Whose Design is it Anyway?. Oxford: Lion. pp. 11–12, 17–21, 47–66).
Dalam kehidupan nyata, keyakinan kaum atheis dewasa ini sedikit sekali terkait dengan penyelidikan rasional. Penelitian kognitif terbaru menunjukkan bahwa faktor yang juga menentukan dan mempengaruhi mereka yaitu sikap terhadap perilaku orang tua. Misalnya, jika orang tua mengidentifikasi diri sebagai penganut Kristen tetapi tidak secara aktif terlibat dalam kegiatan keagamaan seperti menghadiri gereja atau berdoa, anak-anak mungkin menganggap agama tidak penting dan dengan demikian cenderung menjadi atheis. (Study: Atheists are Made By Their Parents, https://skepchick.org/2021/10/study-atheists-are-made-by-their-parents/).
Dengan kata lain mereka tidak memproses keyakinan tersebut pada tingkat kognitif tetapi sekedar ikut-ikutan. Ini artinya, gagasan bahwa menjadi atheis karena alasan rasional mulai terlihat irasional.
Bukti ilmiah cenderung tidak mendukung pandangan bahwa atheisme adalah tentang pemikiran rasional dan theisme adalah tentang pemenuhan eksistensial. Kenyataannya, manusia tidak seperti sains. Tidak satupun dari kita yang tidak pernah tidak rasional, ataupun tidak memiliki sumber makna eksistensial dan kenyamanan. (Bahrul Ulum)

