Prof. Dr. H. Jimly Asshiddiqie, S.H., M.H., lahir di Palembang pada 17 April 1956, adalah seorang guru besar hukum tata negara dan politisi terkemuka di Indonesia. Jimly memperoleh gelar sarjana hukum dari Universitas Indonesia (UI) pada tahun 1982 dan menyelesaikan pendidikan magisternya di universitas yang sama pada tahun 1987. Sebagai akademisi, Jimly sangat produktif, dengan lebih dari 65 buku ilmiah dan ratusan makalah yang dipublikasikan di berbagai media dan forum. Ia meraih gelar doktor dari Universitas Indonesia pada tahun 1990 dan juga dari Van Vollenhoven Institute, Rechts-faculteit, Universiteit Leiden dengan program doktor oleh penelitian dalam ilmu hukum.
Pada era Presiden Soeharto, Jimly menjabat sebagai Staf Ahli Menteri Pendidikan dari 1993 hingga 1998, sebelum dilantik sebagai Asisten Wakil Presiden B.J. Habibie. Selama masa Presiden Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri, Jimly kembali ke FHUI sebagai guru besar dan memegang berbagai posisi penting, termasuk sebagai Penasihat Ahli Menteri Perindustrian dan Perdagangan (2001-2003), Tim Ahli PAH I BP-MPR (2001-2002), dan Penasihat Ahli Setjen MPR-RI untuk perubahan UUD 1945 (2002-2003).
Jimly terlibat dalam pembuatan berbagai undang-undang di bidang politik dan hukum, serta berperan aktif sebagai penasihat pemerintah dalam penyusunan RUU tentang Mahkamah Konstitusi. Setelah RUU tersebut disetujui pada 13 Agustus 2003, Jimly terpilih sebagai hakim konstitusi generasi pertama pada 15 Agustus 2003 dan kemudian menjadi Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) pada 19 Agustus 2003. Ia memimpin MK selama dua periode (2003-2006 dan 2006-2008), menghadapi tantangan sebagai lembaga baru di era reformasi dan mengarahkan MK untuk menavigasi perjalanan hukum Indonesia di tengah gejolak sosial.
Selain itu, Jimly juga pernah menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden pada tahun 2010 dan menjabat sebagai Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) dari Juni 2012 hingga Juli 2017. Ia memperkenalkan DKPP sebagai lembaga peradilan etika pertama di Indonesia dan dunia.
Sebagai salah satu tokoh utama Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), Jimly menjabat sebagai Ketua Umum ICMI dari 2015 hingga 2020. Dalam masa kepemimpinannya, ia mendorong cendekiawan Muslim untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat peradaban Islam, mengingat jumlah Muslim terbesar di dunia yang ada di negara ini. Kini, Jimly menjabat sebagai Ketua Dewan Penasihat ICMI untuk periode 2021-2026.
Atas dedikasinya kepada bangsa dan negara, Jimly Asshiddiqie telah menerima berbagai penghargaan, termasuk Bintang Mahaputera Utama (1999), Bintang Mahaputera Adipradana (2009), dan Bintang Penegak Demokrasi Utama (2018), serta berbagai penghargaan dari organisasi masyarakat dan komunitas ilmiah.



