Jauhi Ulama Su’, Ikuti Ulama Khasyah

Dalam sebuah ayat Allah berfirman:

وَمِنَ ٱلنَّاسِ وَٱلدَّوَآبِّ وَٱلْأَنْعَٰمِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَٰنُهُۥ كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Fathir [35]: 28).

Muqadimah

Kata ulama jamak dari kata ‘aalim yang berarti orang berilmu dan mengamalkan ilmunya. Ulama dijadikan rujukan karena ilmunya dan menjadi teladan sebab amalannya. Bahkan mereka memiliki rasa takut yang besar kepada Allah SWT. Karena faktor inilah yang membuat kedudukan ulama dalam Islam begitu istimewa di antara para hamba Allah SWT.

Para ulama punya tanggung jawab yang besar di tengah-tengah ummat. Mereka harus selalu berada di garda terdepan membela agama Allah dengan menjaga kemurnian Islam dan ajaran-Nya. Juga punya tanggung jawab mendidik masyarakat dengan syariah-Nya, meluruskan yang menyimpang dari petunjuk-Nya dan menentang berbagai kezaliman.

Tanggung jawab tersebut melekat pada para ulama sebagai konsekwensi menjadi pewaris para nabi, sebagaimana sabda Nabi  Muhammad saw.:

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاء

“Sungguh para ulama itu adalah pewaris para nabi” (Riwayat Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Menurut  ar-Raisuni tujuan umum diutusnya para Nabi dan Rasul yaitu mendidik, membimbing, dan menyucikan jiwa manusia. Hal ini banyak disebutkan dalam al-Qur’an, seperti al-Baqarah (2): 129 dan 151 (al-Fikr al-Maqashidi, 1999: 19-20).

Dengan kata lain, tugas ulama yaitu melanjutkan tugas para Nabi, mendidik, membimbing, dan menyucikan jiwa manusia.

Makna Ayat

Para ulama menjelaskan, pada ayat di atas Allah menggunakan kata khasyah sebagai term yang dikhususkan bagi ulama.  Kata khasyah berbeda dengan kata khawf dan term rahaba. Khasyah menghasilkan seseorang untuk tetap bersama yang ia takuti.

Ibnu Arabi menjelaskan khasyah-nya  para ulama bukanlah khawf yang takut akan siksaan di dunia dan di akhirat nanti. Khasyah adalah sebuah bentuk khusyu’ di dalam hati ketika menggambarkan sifat-sifat agung Allah. Hati tersebut benar-benar hadir ketika tadabbur, sehingga hati tersebut mengetahui secara jelas bagaimana kegaungan Allah yang tiada batas. Pengetahuan inilah yang dihasilkan dari khasyah. (Tafsir al Quran Ibnu Arabi, hal. 572).

Menurut Wahbah Zuhaili, ayat diatas menunjukkan bahwa Allah menjelaskan perbedaan warna bukan hanya pada buah-buahan dan pegunungan, akan tetapi juga terjadi kepada manusia. Dia menciptakan Adam dan istrinya Hawa, kemudian dari keduanya diciptakan anak keturunannya berkulit merah, putih, kuning, hitam. Allah juga menciptakan hewan melata dan binatang ternak dan menjadikan berkelompok dan beraneka ragam dalam warna kulit. Namun kebanyakan manusia lalai dari ciptaan-Nya. Sesungguhnya yang takut di antara mereka adalah ulama yang tahu bahwasanya makhluk-makhluk Allah tidak diciptakan dengan tujuan sia-sia. Karena mereka semua memiliki tanggung jawab atas apa yang mereka perbuat. Yang dimaksud dimaksud ulama  bukan hanya dibidang syariah saja, tetapi setiap ulama bidang lainya yang mereka mengetahui dan berilmu. Ketahuilah bahwa Allah maha kuat, gagah yang tidak ada yang dapat melemahkan-nya sesuatu apapun, maha pengampun bagi yang bertaubat dari hamba-Nya (Tafsir al Wajiz, hal.438).

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah dari kalangan hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama yang mengetahui tentang Allah. Karena sesungguhnya semakin sempurna pengetahuan seseorang tentang Allah, makin bertambah sempurnalah ketakutannya kepada-Nya.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. (Fathir: 28), yaitu orang-orang yang mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ibnu Lahi’ah telah meriwayatkan dari Ibnu Abu Amrah, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa orang yang mengetahui tentang Allah Yang Maha Pemurah dari kalangan hamba-hamba-Nya ialah orang yang tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan ia menghalalkan apa yang dihalalkan-Nya dan mengharamkan apa yang diharamkan-Nya, serta berpegang teguh kepada perintah-Nya, dan meyakini bahwa dia pasti akan bersua dengan-Nya dan Dia akan menghisab amal perbuatannya.

Sa’id ibnu Jubair mengatakan bahwa khasyah atau takut kepada Allah ialah perasaan yang menghalang-halangi antara kamu dan perbuatan durhaka terhadap Allah Swt. Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa orang yang alim ialah orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sekalipun dia tidak melihat-Nya, menyukai apa yang disukai-Nya, dan menjauhi apa yang dimurkai-Nya.

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud r.a. yang mengatakan bahwa orang yang alim itu bukanlah orang yang banyak hafal Hadits, melainkan orang yang banyak takutnya kepada Allah.

Ahmad ibnu Saleh Al-Masri telah meriwayatkan dari Ibnu Wahb, dari Malik yang mengatakan, “Sesungguhnya berilmu itu bukanlah karena banyak meriwayatkan hadis, melainkan ilmu itu adalah cahaya yang dijadikan oleh Allah di dalam kalbu.” (Tafsir Ibnu Katsir, hal.1554)

Hati-hati Ulama Su’

Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa ada diantara ulama yang tidak memiliki rasa khasyah kepada Allah. Mereka inilah yang disebut ulama su’ (ulama jahat). Imam al-Ghazali mengutip  Al-Harits bahwa ulama jahat itu adalah setan dari golongan manusia dan pembawa fitnah atas manusia.  Mereka berhasrat pada harta dan kedudukan dunia. Mereka lebih mengutamakan dunia dibandingkan akhirat.  Mereka menakwilkan agama untuk kepentingan dunia. Di dunia, mereka tercela dan terhina. Di akhirat mereka adalah orang-orang yang merugi atau Zat Yang Mulia memaafkan mereka dengan karunia-Nya.” (Ihya Ulum ad-Din, 3/265).

Ulama su’ menyebabkan kebinasaan sebagaimana dijelaskan oleh Anas bin Malik ra dari Rasulullah bahwa, “Kebinasaan bagi umatku (datang) dari ulama su’. Mereka menjadikan ilmu sebagai barang dagangan yang mereka jual kepada para penguasa masa mereka untuk mendapatkan keuntungan bagi diri mereka sendiri. Allah tidak akan memberikan keuntungan dalam perniagaan mereka itu.” (Riwayat al-Hakim).

Bencana umat Islam berasal dari ulama su’, yaitu ulama yang dengan ilmunya bertujuan mencari kenikmatan dunia, meraih gengsi dan kedudukan. Setiap orang dari mereka adalah tawanan setan. Ia telah dibinasakan oleh hawa nafsunya dan dikuasai kesengsaraannya. Siapa saja yang kondisinya demikian, bahayanya terhadap umat datang dari beberapa sisi. Dari sisi umat : mereka mengikuti ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatannya. [Al Allamah Al Minawi dalam Faydh al Qadir VI/369].

Nabi benar-benar mencela perbuatan semacam ini. Abu Dzar, berkata,”Aku berjalan bersama Rasulullah maka beliau bersabda: “Sungguh selain dajjal yang paling aku takuti atas umatku  dan beliau berkata sampai tiga kali, berkata Abu Dzar: Aku bertanya:”Wahai Rasulullah apa yang selain dajjal yang engkau takuti atas umatmu?” Rasulullah menjawab,” Sesungguhnya yang aku khawatirkan atas umatku adalah para imam atau pemuka agama yang menyesatkan.” (Riwayat Abu Daud).

Karenanya umat harus paham posisi para ulama yaitu melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Sebab ajaran Islam bukan cuma mengajak dan menasehati tapi juga melarang manusia berbuat munkar dan zhalim. (Bahrul Ulum)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top