Diantara pembahasan yang cukup pelik dari kalangan filosof yaitu tentang keadilan Tuhan. Problem filosofis ini timbul dari adanya fakta tentang Tuhan sebagai Pencipta Yang Maha Sempurna namun masih ada juga kejahatan(H. J. McCloskey, God and Evil,hal, 1).
Jika Tuhan itu memang Maha Adil dan Maha Sempurna mengapa dalam ciptaan-Nya masih menunjukkan kekurangsempurnaan seperti bencana alam, penyakit, kemiskinan, kefakiran dan sebagainya.
Atau setidaknya ada filosof yang secara halus menyatakan, memang tidak ada kontradiksi antara pernyataan bahwa “ada Tuhan yang Maha Kuasa, Maha Mengetahui atau Maha Sempurna” dengan “ada kejahatan di muka bumi”. Namun, jika disadari bahwa wujud yang memiliki kebaikan itu mesti akan mengeliminasi kejahatan, dan bahwa tidak ada batasan bagi wujud yang maha kuasa untuk melakukan apa saja, termasuk kejahatan itu sendiri, maka di situ benar-benar ada kontradiksi.( J. L. Mackie, The Miracle of Theism: Arguments for and Against the Existence of God, hal. 150.)
Kontradiksi ini juga ada yang menyebutnya sebagai misteri. Misalnya Journet mengatakan”Jika Tuhan tidak ada, dari mana asal kebaikan? Jika Dia benar-benar ada, dari mana asal kejahatan? Jika Tuhan adalah sumber kebaikan, dapatkah Dia juga menjadi sumber kejahatan?…Kejahatan ada dan Tuhan ada. Koeksistensi keduanya adalah suatu misteri.”( McCloskey, God and Evil, hal, 2).
Argumen di atas semuanya cenderung mendiskreditkan Tuhan ketika membahas tentang keadilan. Hal ini tidak mengherankan karena para filosof tersebut cenderung memahami keadilan Tuhan dari sudut pandang keadilan manusia. Padahal Tuhan dalam segala sisi berbeda dengan manusia. Karenanya, tidak ada alasan menyerupakan atau memberperbandingkan Tuhan dengan makhluk-Nya.
Dalam kehidupan manusia, suka dan duka pasti selalu beriringan. Segala persoalan hidup yang dialaminya mengalami pasang surut. Hanya saja tidak banyak yang mampu mengarunginya dengan baik. Akibatnya banyak yang frustasi dan stress yang ujung-unjungnya menuduh Tuhan tidak adil.
Untuk mengatasi persoalan hidup, tidak cukup diselesaikan dengan ilmu pengetahuan yang selalu mengandalkan akal pikiran. Sebab akal pikiran manusia mempunyai kelemahan dan keterbatasan. Buktinya, akal tidak mampu melihat sifat Tuhan secara utuh. Anggapan Tuhan tidak adil itu muncul dari produk pemikiran manusia yang terbatas dan dangkal.
Karena itulah, selain akal, manusia harus memanfaatkan hati nuraninya. Melalui wadah ini manusia akan menyadari bahwa hidup ini ada kebaikan dan keburukan serta kebenaran dan kesalahan. Selanjutnya, hati nurani tersebut harus tetap dijaga agar sesuai dengan fitrahnya. Dalam hal ini peran agama memainkan fungsinya. Tanpa agama, mustahil hati nurani bisa sehat dan berada pada fitrahnya.
Hati nurani tempatnya ada pada jiwa manusia. Berbagai aliran ilmu jiwa menyebutkan bahwa agama memiliki peran yang penting dalam kesehatan jiwa atau mental. Keimanan kepada Tuhan merupakan kekuatan luar biasa yang bisa menjadikan jiwa damai, tenang dan mampu menghadapi berbagai benturan kehidupan. Kekuatan rohaniah dalam jiwa mampu menopang seseorang menanggung beratnya beban kehidupan, menghindarkannya dari keresahan yang menimpa banyak manusia.
Pada tahun 2001, Koenig melakukan penilitian tentang hubungan agama dan kesehatan mental terhadap 724 orang. Koresponden tersebut terdiri dari orang muda hingga tua, dari sakit hingga sehat. Studi ini dilakukan hampir di seluruh dunia, Amerika Serikat, Kanada, Inggris, benua Eropa, Australia, China, Malaysia, Mesir, India, dan Israel. Hasilnya, terdapat hubungan yang sangat signifikan antara agama dan kesehatan mental. Penilitian tersebut menunjukkan bahwa agama mempercepat pemulihan depresi dan kecemasan.(Religion and mental Health, Indian Journal of Psychiatry, Januari 2013, hal. 256).
Hasil penelitian ini menunjukkan, terapi terbaik bagi keresahan jiwa adalah keimanan kepada Tuhan. Keimanan itu sebagai salah satu kekuatan yang harus dipenuhi untuk membimbing seseorang dalam hidup ini. Meskipun perhatian manusia tertuju kepada suatu dunia yang tak dapat dilihat (akhirat) namun agama selalu melibatkan dirinya dalam masalah-masalah kehidupan sehari-hari manusia.
Keagamaan adalah perasaan berkaitan dengan Tuhan Yang Maha Kuasa, antara lain takjub, kagum, percaya yakin keimanan, tawakal pasrah diri, rendah hati ketergantungan pada Ilahi, merasa sangat kecil kesadaran akan dosa dan lain-lain.
Memang harus diakui banyak manusia yang tidak kuat menanggung ujian hidup. Lalu mereka menyalahkan Tuhan karena dianggap tidak adil pada dirinya. Pemikiran seperti itu tidak akan terjadi pada orang beriman. Orang beriman yakin bahwa hidup ini merupakan anugerah sekaligus ujian dari Tuhan. (Bahrul Ulum)

