
Oleh Ulul Albab
Ketua ICMI Jawa Timur
Senin pagi selalu punya cerita sendiri. Anak-anak berbaris. Mata menghadap tiang. Bendera naik perlahan. Lagu Indonesia Raya dikumandangkan. Negara hadir, setidaknya lewat kain merah putih dan aba-aba pemimpin upacara.
Seperti yang kita ketahui bersama, Pemerintah kini menegaskan kembali: upacara bendera bagi siswa sekolah wajib. Tujuannya mulia. Yaitu: Pendidikan karakter, Nasionalisme, dan Cinta tanah air. Semua setuju. Hampir tak ada yang menolak.
Tapi saya justru terpikir soal lain. Soal yang menurut saya lebih berat. Yang tidak bisa selesai hanya dengan barisan rapi.
Upacara bendera itu seperti alarm jam beker. Ia berbunyi keras, tapi sebentar. Setelah itu? Hidup berjalan seperti biasa. Dan di “hidup yang berjalan seperti biasa” itulah anak-anak belajar lebih banyak, bukan dari upacara, tetapi dari kenyataan.
Teori pendidikan menyebutnya: “anak meniru apa yang ia lihat, bukan hanya apa yang ia dengar.” Kalau guru berkata jujur, tapi murid melihat kebohongan di sekitarnya, maka yang ditiru adalah yang terakhir. Begitu juga nasionalisme.
Kita ini bangsa yang kaya simbol. Terlalu kaya, bahkan. Bendera di mana-mana. Lagu kebangsaan hafal di luar kepala. Pancasila diucapkan rutin. Upacara dilakukan sejak puluhan tahun lalu. Namun di waktu yang sama, berita tentang korupsi tak pernah benar-benar libur. Etika pejabat sering bolong. Pelayanan publik kerap dingin. Janji politik mudah menguap.
Anak-anak melihat itu semua. Mereka tidak bodoh. Mereka hanya jarang diberi ruang bertanya.
Maka upacara yang dimaksudkan untuk menanamkan cinta tanah air bisa kehilangan daya gugahnya. Bukan karena upacaranya yang salah, tetapi karena contoh hidupnya tidak sejalan. Nasionalisme yang hanya diwajibkan ke bawah, tapi longgar ke atas, terasa timpang.
Padahal setiap elite pemegang jabatan publik sejatinya adalah guru. Guru tanpa papan tulis. Guru tanpa seragam. Cara mereka bicara, mengelola anggaran, mengambil Keputusan, itu semua adalah pelajaran kewarganegaraan yang paling efektif. Jauh lebih efektif daripada seribu pidato saat upacara.
Ironisnya, teladan terbaik sering tidak viral. Guru di pelosok yang tetap mengajar meski gaji tersendat. Tenaga kesehatan yang bertahan di daerah terpencil. Aparatur desa yang jujur meski godaan besar. Mereka inilah nasionalisme yang berjalan kaki. Diam-diam. Konsisten. Tapi tidak viral, juga tidak ada apresiasi dari negara.
Sayangnya lagi, mereka jarang masuk dalam kurikulum simbolik kebangsaan. Anak-anak lebih sering diajak menghafal, daripada mengenal.
Mungkin upacara bendera memang perlu terus dijalankan. Tapi jangan berharap terlalu banyak jika ia berdiri sendirian. Upacara bukan fondasi. Tapi hanya penanda.
Fondasinya tetap sama sejak dulu: yaitu keteladanan. Tanpa itu, nasionalisme hanya menjadi barisan yang rapi, dan cepat bubar setelah aba-aba “istirahat di tempat” dan “bubar barisan.”
Anak-anak Indonesia tidak kekurangan instruksi untuk mencintai negeri ini. Yang mereka tunggu justru satu, yaitu: contoh yang pantas ditiru.
Editor: Ahmad Fathoni



