Saat ini muncul wacana bahwa manusia adalah pusat agama. Ia menjadi sumber moralitas, bukan Tuhan. Sebab tujuan dari segala tindakan moral diarahkan demi kemanusiaan. Yang menyatukan agama-agama bukanlah doktrin tentang ketuhanan, atau kewahyuan dan kitab suci, tetapi kemanusiaan yang luhur dan alamiah.
Karena itu menurut mereka, moralitas tidak perlu lagi didasarkan pada paham ketuhanan yang neurotic (ketidakmampuan beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya) dan delusive (tidak nyata). Agama dinilai tidak mampu membangun moralitas di masyarakat.
Pemikiran di atas tidak berlaku pada Islam. Ruang lingkup Islam terdiri dari tiga komponen, yaitu aqidah, syariah dan akhlak. Ketiganya saling mendukung dan memiliki keterkaitan erat. Aqidah merupakan keyakinan seseorang kepada yang gaib. Syariah merupakan jalan mendekatkan diri dengan Khaliq-Nya. Sedangkan akhlak merupakan sikap yang dilakukan demi kesempurnaan aqidah dan syariah. Seseorang dikatakan belum sempurna iman dan ibadahnya jika tidak memiliki akhlak yang baik.
Allah berfirman:
إِنَّآ أَخْلَصْنَٰهُم بِخَالِصَةٍ ذِكْرَى ٱلدَّارِ
“Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.” (Shad[38]: 46)
Ayat ini berkaitan dengan akhlak para Nabi seperti Nabi Ibrahim, Nabi Ishak, Nabi Yaqub sebagaimana dijelaskan dalam ayat sebelumnya.
Menurut Syaikh Wahbah Zuhaili, Allah telah menyucikan mereka dengan sikap (attitude) yang baik. Mengkhususkan mereka dengan keistimewaan dibanding yang lainnya yaitu banyak mengingat akhirat (Tafsir Al-Wajiz, 457).
Sedang Syaikh As-Sa’di menjelaskan bahwa Allah telah menyucikan mereka dengan akhlak yang tinggi, yang agung dan dengan keunggulan yang besar karena yaitu selalu mengingatkan kepada negeri akhirat. Allah menjadikan hati mereka selalu ingat kepada negeri akhirat dan beramal untuknya dalam kebanyakan waktu. Ikhlas dan selalu merasa diawasi Allah menjadi ciri mereka yang abadi. Allah juga menjadikan mereka sebagai peringatan akan negeri akhirat. Karena itu kondisi dan perihal mereka dapat diambil pelajarannya oleh orang yang mau mengambil pelajaran. Mereka dapat dijadikan sebagai ibrah (suri teladan) oleh orang-orang yang mau meneladani (Tafsir as-Sa’di, 840).
Menurut Ibnu Katsir, Allah telah menganugerahkan mereka akhlak yang tinggi, yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.
Mujahid mengatakan bahwa Allah menjadikan mereka beramal untuk akhirat, tiada yang lain. Hal yang sama telah dikatakan oleh As-Saddi, yaitu mereka selalu ingat akan negeri akhirat dan selalu beramal untuk menyambutnya. Hal yang sama dikatakan pula oleh-Ata Al-Khurrasani.
Sa’id ibnu Jubair mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah negeri surga. Allah Swt. berfirman, “Kami menganugerahkan kepada mereka surga karena mereka selalu mengingatnya.” Tetapi di dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa Sa’id ibnu Jubair mengatakan bahwa zikrad dar ialah tempat kesudahan yang baik.
Qatadah mengatakan, mereka selalu memperingatkan manusia kepada negeri akhirat dan menganjurkan kepada mereka untuk beramal baik buat bekali negeri akhirat. Ibnu Zaid mengatakan bahwa dijadikan khusus bagi mereka suatu balasan yang paling utama di negeri akhirat. (Tafsir Ibnu Katsir, 1611).
Berdasar ayat tersebut jelaslah bahwa ajaran Islam menekankan pentingnya akhlak yang baik karena ada hubungannya dengan akhirat. Kehidupan yang baik bisa tercapai setelah manusia melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Pada faktanya, keberadaan agama mendahului prinsip moral dan hukum suatu masyarakat. Memberi pahala kepada mereka yang bertindak secara moral. Artinya, menjadi penjamin kuat bagi hidup bermoral.
Moral Bagian dari Agama
Para pakar moral dunia mengakui bahwa saat ini terjadi kerusakan dan penyimpangan moral, baik di Barat maupun masyarakat Muslim. Kerusakan moral di Barat akibat kemajuan dan modernisasi yang mendorong mereka meninggalkan ajaran agama mereka. Kerusakan moral mereka akibat mempraktekkan prinsip-prinsip positivisme dan materialisme yang diyakininya. Sementara pada masyarakat Muslim, kerusakan moral disebabkan adanya penyimpangan dari aturan-aturan dan nilai-nilai yang telah ditetapkan oleh syariat Islam. (Wahīduddīn Khan, Women Between Islām and Western Society, 111).
Kaum Muslimin harus sadar bahwa Allah menyanjung akhlak sebagai dasar ketaatan dan menjadi sebab ketaatan. Allah Ta’ala telah memuji Nabi Muhammad yang berakhlak mulia, sebagaiamana firman-Nya, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al-Qalam: 4). Ibnu Abas radhiallahu anhuma menafsirkan bahwa yang dimaksud adalah Islam. Beliau berkata, “Yakni sesungguhnya engkau (Muhammad) dalam agama yang agung yaitu islam.” (Riwayat Thabari dalam tafsirnya, 12/179).
Akhlak merupakan bagian dari agama, bahkan ia adalah agama itu sendiri. Fairuzabadi mengatakan, agama seluruhnya adalah akhlak. Siapa yang bertambah akhlaknya, maka bertambahlah agama pada dirinya (Fairuzabadi, Bashair Dzawi At-Tamyiz, 2/568).
Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa makhluk yang paling dicintai adalah orang mukmin. Kalau dia paling sempurna imannya, maka paling baik akhlaknya. Maka yang paling besar dicintai Allah adalah yang paling bagus akhlaknya. Akhlak adalah agama (Ibnu Taimiyah, Al-Istiqamah, 442).
Para ulama sepakat, Mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang terbaik akhlaknya. Kesempurnaan iman mengharuskan berbudi pekerti baik dan berbuat baik kepada seluruh orang (Al-Mubarokfuri, Tuhfatul Ahwadzi, 4/273).
Berdasar penjelasan di atas, membuktikan bahwa akhlak sangat terkait dengan ketuhanan. Salah besar jika memisahkan akhlak dengan agama. (Bahrul Ulum)

