Konsep Kitab Suci Menurut Islam

Salah satu rukun iman dalam agama Islam yaitu percaya terhadap kitab-kitab yang diturunkan Allah kepada para Nabi dan Rasul-Nya. Kitab tersebut terdiri dari  Zabur, Syuhuf, Taurat, Injil, dan Al-Qur’an serta segala sesuatu selainnya harus diyakini secara umum (Muhammad Abdul Aziz al-Musnad, Kitab Fatawa Islamiyah, hal. 41)

Tujuan diturunkan kitab-kitab tersebut untuk menegakkan tauhid, yaitu beribadah hanya kepada Allah. Juga untuk memperjelas jalan yang harus diikuti umat manusia yaitu jalan yang baik dan benar, dan menghidupkan jiwa-jiwa dengan cahaya serta petunjuk dalam kegelapan (Muhammad Ibrahim al-Muhammad, Kitab al-Thoriqoh ila Islam, hal. 61)

Kitab Zabur diturunkan kepada Nabi Daud. Terdiri dari seratus lima puluh surah, yang berisi khotbah dan puji-pujian kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta mengagungkan dan memuji-Nya – Maha Suci-Nya. Tidak ada pembahasan hukum sebagaimana dalam Taurat (Said Hawwah, Kitab Asasi fi Sunnah wa fiqiha, hal. 822).
Kitab Shuhuf Ibrahim berisi khotbah, hikmah , dan pelajaran. Namun tidak satu pun dari isi tersebut yang sampai kepada kita kecuali apa yang telah telah dijelaskan al-Qur’an. (M. Sholih Manjid, Kitab Mauqu’ Islam sual  wa jawab, hal. 167)

Kitab Taurat diturunkan kepada Nabi Musa untuk Bani Israil yang berisi tauhid dan hukum-hukum syariah (Ibnu Ustaimin, Kitab Liqoa al-Bab al-Matuha, hal. 4)

Sedang Injil diturunka kepada Nabi Isa yang kemudian ditulis oleh Matius, Lukas, Markus dan Yohanes. Menurut Ibnu Taimiyah isi kitab tersebut mirip dengan tradisi periwayatan Ahli Hadis dan sejarawan kenabian yang sekedar meriwayatkan sebagian sabda dan perbuatan Nabi yang bukan al-Quran.

Dengan kata-kata lain, Injil orang Kristen mirip dengan kitab-kitab syirah, kitab-kitab Hadis atau yang sejenisnya meski secara garis besar kandungannya sahih (Ibnu Taimiyah, al-Jawab as-Sahih li-man Baddala Din al-Masih,  Pasal Qiyas an-Nashara Kutubahum ala al-Quran Qiyas Bathil).

Sikap Terhadap Kitab

Dalam perkembangannya, kitab-kitab di atas telah mengalami perubahan, kecuali al-Qur’an. Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya: “Maka celakalah orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka (sendiri), kemudian berkata, ‘Ini dari Allah,’ (dengan maksud) untuk menjualnya dengan harga murah. Maka celakalah mereka, karena tulisan tangan mereka, dan celakalah mereka karena apa yang mereka perbuat.” (QS Al-Baqarah [2]: 79).

Menurut Syekh Wahbah az-Zuhaili, ayat tersebut diantaranya mengisahkan ulama-ulama Yahudi pada masa Nabi Musa yang berani merubah kitab Taurat. Misalnya, yang awalnya haram dirubah menjadi halal, yang halal menjadi haram. Hal ini mereka lakukan tidak lain selain untuk kepentingan duniawi saja (Syekh Zuhaili, Tafsir al-Munir fil Aqidati was Syari’ati wal Aqidati wal Manhaji, I/201).

Disebabkan para ulama Yahudi dan Nasrani sering mengubah kitab-kitab mereka, Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian membenarkan ahli kitab, dan jangan (pula) kalian menyalahkan mereka. Katakanlah, ‘Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami.’” (Riwayat Bukhari).

Hadits di atas memberi peringatan kepada ummat Islam agar hati-hati menerima kandungan kitab-kitab sebelumnya.

Jika isinya sesuai dengan wahyu yang disampaikan Rasulullah maka harus diterima dan tidak boleh ditolak sedikit pun. Sebaliknya,  jika tidak sesuai, harus ditolak.

Alasan tidak langsung membenarkan adalah khawatir apa yang mereka sampaikan merupakan kisah-kisah yang sudah terdistorsi, begitu juga tidak langsung menolak karena bisa saja ada kemungkinan kisah itu masih utuh dan benar (Ibnu Khaldun, Muqaddimah Ibnu Khaldun,  I/490)

Demikianlah Rasulullah mengajarkan kepada ummatnya agar selektif menerima kitab-kitab sebelum Islam (Bahrul Ulum).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top