Kesalapahaman Barat Terhadap Nabi Muhammad

Ali Sina,  berpendapat bahwa  Islam merupakan hasil pikiran Nabi Muhammad. Ummat Islam hanya membaca perkataannya dalam Al- Qur‘an maupun hadis  dan hanya mengikuti semua perbuatannya secara seksama dalam hidupnya. Kaum Muslimin percaya jika Nabi Muhammad melakukan sesuatu, tidak peduli sebiadab apapun, maka itu adalah tindakan yang benar. Tidak ada pertanyaan dan tidak ada masalah moral yang dipertanyakan.” (Understanding Muhammad and Muslim, hal. 4).

Pemikiran seperti ini sudah menjadi trend di kalangan pemikir Barat, khususnya di Abad Pertengahan. Mereka menuduh Islam menentang sikap yang diambil Barat terhadap sistem alternatif berdasarkan tiga prinsip, yaitu egalitarianisme, hidup berdampingan secara damai, dan keadilan. Misalnya, Thomas Warton mengelompokkan Nabi Muhammad dengan tokoh-tokoh seperti Herodes, Yudas dan Pilatus, yang semuanya dimasukkan ke Neraka oleh Skelton” (Aljubouri ,  The Medieval idea of the Saracens, as illustrated in English literature, spectacle and sport, 1972: 182).

Pemikiran seperti itu oleh R. W. Southern diangap tidak memiliki sumber tertulis, hanya berdasar prasangka. (The Western views of Islam in the Middle Ages, 1978: 30). Demikian juga Samuel C. Chew berpendapat bahwa informasi yang salah di Inggris mengandung kesalahan nyata dan penyajian yang keliru (The crescent and the rose: Islam and England during the Renaissance,  1937: 387 dan 396).

Southern menegaskan bahwa diantara legenda yang tersebar luas di Eropa Abad Pertengahan tentang Nabi Muhammad yaitu bahwa dia seorang penyihir hebat dengan kekuatan iblis yang memberinya kemampuan untuk menciptakan keajaiban yang diperoleh melalui ilmu sihir dan penipuan untuk menghancurkan Gereja. Akibatnya, Gereja Barat mengirimkan perang salib ke Timur. Sehingga banyak mitos tentang Nabi Muhammad yang terbentuk karena konflik historis antara Eropa dan dunia Islam.

Bagi banyak orang Barat, Nabi Muhammad dianggap perancang Islam, yang bagi mereka merupakan kumpulan cerita palsu dan distorsi kebenaran yang disengaja. Islam dianggap sebagai agama yang penuh paksaan, dekadensi moral, dan kekerasan yang disertai permusuhan dan pesta pora.

Simon Ockley, dalam bukunya, The history of the Saracens; melakukan studi yang bias tentang Nabi Muhammad dengan cara mendistorsi mengenai hubungan Nabi Muhammad dengan suku-suku Kristen dan Yahudi.

Kekeliruan Metodologis

Pemikiran Ali Sina dan ilmuwan Barat seperti  di atas,  tidak obyektif. Mereka  tidak menggunakan sumber-sumber yang kredibel. Atau jika menggunakan, sengaja menafsirkan sumber-sumber tersebut secara tendensius. Terbukti, metodologi yang mereka pakai penuh dengan prasangka yang buruk dan tidak adil terhadap Nabi Muhammad. Mereka juga tidak memahami nuansa dan keragaman dalam konteks sejarah, budaya, dan teologis dari Islam.

Sejarah membuktikan bahwa Islam merupakan agama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad melalui kitab suci al-Qur’an dan hadis. Oleh karena itu, Islam bukanlah pikiran Nabi Muhammad, melainkan ajaran yang diterimanya dari Allah. Allah berfirman: “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (SQ. Al-Ahzab: 40).

Untuk tugas tersebut, Allah telah memberikan keutamaan kepada Nabi Muhammad atas nabi-nabi lainnya dengan enam keutamaan. Rasulullah bersabda: “Saya dilebihkan atas para nabi lainnya dengan enam hal, saya diberi perkataan ringkas dan padat, dimenangkan dengan ketakutan (musuh), dihalalkan bagiku gonimah, dijadikan untukku tanah untuk bersuci dan masjid, saya diutus untuk seluruh manusia dan para nabi diakhirkan untukku.”( Riwayat Muslim, 523).

Karena itu seluruh manusia diharuskan beriman dan mengikuti syareat beliau agar dapat masuk surge (QS. An-Nisaa’: 13). Allah menyanjung orang yang beriman kepada Rasul sebelum Nabi Muhammad dan sekaligus kepada beliau dengan dua pahala. Allah berfirman: “Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Al kitab sebelum Al Quran, mereka beriman (pula) dengan Al Quran itu. Dan apabila dibacakan (Al Quran itu) kepada mereka, mereka berkata: “Kami beriman kepadanya; sesungguhnya; Al Quran itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan(nya). Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka,.” (QS. Al-Qhasas: 52-54). Sebaliknya, siapa yang tidak beriman kepada Rasul Muhammad berarti dia kafir (SQ. Al-Fath: 13).

Karena Rasulullah mendapatkan keutamaan yang agung atas manusia lainnya, manusia diperintahkan bershalawat kepada beliau. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56).

Kesalapahaman atau bahkan kekeliruan Barat terhadap Nabi Muhammad menunjukkan kelemahan mereka dalam berfikir secara jernih dan obyektif. (Bahrul Ulum)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top