Di era globalisasi saat ini, dunia seolah berubah menjadi sebuah perkampungan kecil yang dikenal sebagai dunia global. Dunia ini memiliki tiga karakteristik utama.
Pertama, kecepatan yang luar biasa berkat kemajuan teknologi, terutama dalam bidang transportasi dan telekomunikasi. Hal ini memungkinkan kejadian di tempat terpencil dapat segera diketahui oleh masyarakat di belahan dunia lain.
Kedua, adanya saling ketergantungan antara individu dan kelompok yang dikenal sebagai “interdependence” atau “interconnectedness”. Kecepatan dalam transportasi dan komunikasi membuat dunia semakin kecil dan batas-batas antar manusia semakin tipis. Keterbukaan media, terutama media sosial, membuat batas itu hampir tidak ada lagi, menjadikan kita seolah hidup dalam satu rumah yang sama.
Ketiga, persaingan yang ketat. Keterbukaan ini membuka mata manusia terhadap kejadian di berbagai tempat, sehingga keberhasilan dan kegagalan di satu tempat bisa mempengaruhi tempat lainnya. Persaingan yang ketat ini sering kali menyebabkan manusia kehilangan etika dan moral, sehingga yang kuat memangsa yang lemah.
Karakteristik dunia global ini sebenarnya bukanlah hal baru dalam ajaran Islam. Ajaran Islam sejak awal telah mencakup konsep kecepatan, interdependensi, dan persaingan sehat. Banyak ayat Al-Quran yang mendorong umatnya untuk bergegas dalam kebaikan, seperti dalam Al-Quran surat Ali Imran yang berbunyi: “Dan bergegaslah kamu semua kepada ampunan Tuhanmu dan kepada syurga, yang luasnya seluas langit dan bumi yang dipersiapkan bagi orang-orang yang bertakwa.”
Contoh kecepatan dalam menangkap peluang global dapat dilihat dari bagaimana umat Islam sering kalah cepat dalam memanfaatkan peluang. Bangsa Cina misalnya, memanfaatkan peluang dengan memproduksi kebutuhan bagi para pengunjung Mekkah seperti tasbih dan sajadah, bahkan ada rencana untuk mencetak Al-Quran.
Selain itu, Al-Quran juga mengajarkan tentang saling ketergantungan dan kerja sama antar manusia. Konsep saling mengenal (ta’aruf) untuk saling memahami (tafahum) dan bekerja sama (ta’awun) sangat relevan dengan dunia global saat ini. Dalam dunia global, tidak ada satu individu atau kelompok yang dapat hidup tanpa orang lain. Ini adalah karakter dasar kehidupan berjamaah dalam Islam yang menuju pada terwujudnya ketakwaan kolektif atau Baldatun Thoyyibah Wa Rabbun Ghafuur.

