
ICMI Jatim: 2026 Momentum Moral & Pro-Rakyat
Oleh: Ulul Albab (Ketua ICMI Jatim)
Menutup tahun 2025, Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah Jawa Timur menyampaikan refleksi tajam atas perjalanan bangsa.
Bagi ICMI, tahun ini bukan sekadar catatan angka dan seremoni, melainkan cermin besar untuk menilai sejauh mana pembangunan benar-benar menghadirkan keadilan, keberpihakan, dan kemanusiaan.
2025 sebagai tahun pertumbuhan yang belum sepenuhnya adil.
Tahun ini kita tumbuh, tapi belum semua ikut tumbuh. Kita sibuk membangun citra, tapi kurang mendengar suara rakyat. Ritual keagamaan meningkat, namun moral publik masih sering kalah oleh kepentingan. Korupsi masih hadir dalam wajah baru yang lebih rapi dan tersenyum. Indonesia tidak kekurangan orang pintar—yang kurang adalah ruang bagi orang jujur.
Ekonomi Naik, Kesejahteraan Belum Merata
Secara makro, ekonomi nasional tumbuh di kisaran 5 persen. Namun di balik statistik itu, realitas di lapangan menunjukkan wajah lain: UMKM masih kesulitan mengakses modal, biaya hidup terus meningkat, dan kelas menengah kian tertekan.
ICMI Jatim mendorong percepatan pembangunan ekonomi berbasis UMKM, desa, industri halal, dan digitalisasi ekonomi rakyat, agar pertumbuhan benar-benar dirasakan hingga lapisan terbawah masyarakat.
Politik: Ramai Kamera, Sunyi Dialog
Dalam bidang politik, ICMI menyoroti menguatnya politik pencitraan. Banyak kebijakan dikemas meriah dalam publikasi, tetapi implementasinya belum sepenuhnya menjawab kebutuhan rakyat.
ICMI mendorong lahirnya politik gagasan, bukan politik panggung. Pejabat perlu lebih sering turun untuk mendengar, bukan hanya turun untuk tampil dan disorot kamera.
Modern, Tapi Tak Mengakar Kuat
Perubahan sosial bergerak cepat. Digitalisasi memang memudahkan komunikasi, tetapi juga mengikis keintiman sosial. Gotong royong menipis, polarisasi meningkat, dan etika publik melemah.
ICMI menyerukan revitalisasi budaya santun, literasi digital, pendidikan karakter, serta penguatan komunitas dan keluarga sebagai ruang pembentuk moral bangsa.
Agama Semarak, Akhlak Kurang Tampak
Kehidupan keagamaan sepanjang 2025 dinilai berkembang pesat. Namun ICMI mengingatkan, keberagamaan tidak boleh berhenti pada simbol dan ritual semata.
Agama harus menjadi energi perubahan. Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi pusat pemberdayaan dan peradaban. Ceramah indah harus bisa diterjemahkan menjadi aksi nyata.
Korupsi: Pengkhianatan terhadap Masa Depan
Kasus korupsi masih tinggi, sementara indeks persepsi korupsi belum menunjukkan kemajuan signifikan. ICMI menilai korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi pengkhianatan terhadap masa depan bangsa.
Karena itu, ICMI mendorong penguatan reformasi birokrasi berbasis teknologi, transparansi anggaran, perlindungan bagi pelapor pelanggaran, serta penguatan lembaga antikorupsi tanpa kompromi.
Bencana: Negara Harus Hadir
Tahun 2025 diwarnai berbagai bencana—banjir, kekeringan ekstrem, longsor, erupsi gunung, hingga gelombang panas. Meski pemerintah telah berupaya, koordinasi penanganan di sejumlah daerah dinilai masih lambat dan kurang sistematis.
Ketika situasi darurat, negara harus hadir tanpa ragu. Jika dampak bencana besar dan publik mendesak, pemerintah tidak boleh segan menetapkan status bencana nasional. Kecepatan dan keberanian lebih penting daripada pencitraan.
ICMI mendorong kebijakan kebencanaan berbasis mitigasi, mulai dari early warning system terintegrasi, peta kerentanan wilayah, edukasi kebencanaan di sekolah dan rumah ibadah, cadangan logistik regional, hingga SOP penetapan status darurat yang transparan.
Menuju 2026: Sepuluh Agenda Perubahan
Sebagai kontribusi pemikiran, ICMI Jawa Timur mengajukan sepuluh agenda strategis menuju 2026, di antaranya:
- Ekonomi inklusif berbasis UMKM, koperasi modern, dan industri halal
- Digitalisasi pelayanan publik secara menyeluruh
- Politik berbasis gagasan dan data
- Pendidikan vokasi dan teknologi menghadapi bonus demografi
- Revitalisasi literasi budaya dan etika publik
- Gerakan moral agama yang membumi dan produktif
- Anggaran digital terbuka hingga tingkat desa
- Penguatan lembaga antikorupsi
- Sistem mitigasi bencana nasional yang adaptif
- Kepemimpinan yang merakyat dalam keputusan, bukan sekadar dalam konten
Penutup: Indonesia Harus Tenar dengan Moral
Kami menegaskan bahwa akhir tahun bukan hanya waktu merayakan, tetapi waktu untuk bercermin dan memperbaiki arah.
Indonesia tidak boleh hanya besar di peta, tetapi juga besar dalam moral, etika, dan keberpihakan. Dari Jawa Timur, kami titip pesan: mari kita mulai perubahan dari diri sendiri, dari kantor kecil, dari masjid kecil, dari keputusan sederhana yang jujur dan amanah.
*Penyunting: Ahmad Fathoni



